Arron Bryan Menangkan Future Fashion Designer 2026, Bawa Angsa Hitam di Final

4 hours ago 3

Liputan6.com, Jakarta - Ajang Future Fashion Designer 2026, rangkaian Jakarta Fashion and Food Festival (JF3), menentukan Arron Bryan sebagai pemenang. Desainer asal Jayapura yang kini berbasis di Jakarta itu berhasil meyakinkan 12 juri dengan keterampilannya mengolah kain menjadi busana yang indah dan bercerita. Di babak final, Arron memamerkan busana bertema Black Swan alias angsa hitam.

"Angsa hitam itu merupakan keterbalikan dari aksesori Koh Rinaldy A. Yunardi (desainer aksesori) yang ada silet angsanya. Di mana angsa putih itu menggambarkan kesucian, kemurnian, kebaikan, tapi aku men-transform menjadi black swan yang menggambarkan keangkuhan, antagonis," tutur Arron ditemui di sela jumpa pers di Jakarta, Kamis, 18 Juni 2026.

Untuk mendukung narasinya, ia memilih bahan tweed, semacam rajut, ditambah struktur untuk membentuk bustier yang kokoh dan tegas, simbol keangkuhan. Ia memadukannya dengan celana panjang hitam pipa lebar dengan material yang lebih loose. Ia menambahkan penutup leher sebagai penyempurna penampilan.

Busana itu merupakan jawaban terkait tantangan terakhir FFD 2026 yang bertema The Opposite. Dengan waktu terbatas di hari terakhir, ia menyelesaikan tugas itu dengan baik. "Aku inget banget kita kerjainnya sampai jam setengah 10 malam untuk besoknya difinalkan atau dijurikan," ujarnya.

Total ada lima tema busana yang harus dikerjakannya sepanjang dua minggu proses seleksi tahap final. Setiap hari, tanpa libur, ia memulai pekerjaan sejak pukul 9 pagi hingga pukul 6 sore, dengan jeda satu jam untuk makan siang.

"Selama dua minggu itu benar-benar di-challenge. Kita sebagai peserta tidak tahu apa-apa. Jadi benar-benar kita datang dengan pikiran yang kosong, tidak ada bekal ide, tidak ada bekal inspirasi apapun," tuturnya.

Hadiah Uang Tunai dan Pengalaman Berharga

Arron mengungkapkan setiap ada tantangan baru, ia dan empat finalis lainnya hanya memiliki waktu 30 menit hingga satu jam untuk merancang busana, termasuk rencana bahan yang akan dipakai. Selanjutnya, mereka akan mengeksekusi ide tersebut dalam 1,5 sampai 2 hari.

"Jadi, bagaimana kita me-manage waktu tersebut untuk bisa menghasilkan sebuah karya yang pantas kita jurikan atau kita tampilkan," sahut lulusan Susan Budihardjo Fashion Forward Institute pada 2025 itu 

Dengan kemenangannya, Arron berhak mendapat hadiah uang tunai Rp 50 juta dan kesempatan tampil di runway Jakarta Fashion and Food Festival (JF3) 2026. Syaratnya, ia harus menambah tiga busana lagi agar bisa tampil bersama di show PINTU, rangkaian dari JF3.

"(Lomba ini) benar-benar sangat penting bagi aku ya. Aku belajar banyak dan selama dua minggu ikut lomba ini, aku jadi mengerti potensi aku. Aku jadi tahu apa yang sebelumnya aku enggak bisa. Karena ikut lomba ini, aku jadi bisa gitu," ujarnya.

Selain itu, ia merasa jejaring yang didapatkannya selama lomba menjadi lebih luas. "Tidak hanya fashion designer, tapi orang-orang penting lainnya," imbuhnya.

12 Juri FFD 2026

Seperti disampaikan Arron, ada 12 juri yang menilai kinerja para finalis. Mereka adalah Thresia Mareta, Susan Budihardjo, Rinaldy A. Yunardi, Hian Tjen, Caren Delano, Sofie, Yongki Komaladi, Sarie Febriane, Didi Budiardjo, Richard Hartono, Ary Juwono dan Djafar.

"Saya rasa ini tidak kebanyakan karena nanti di dunia kerja nyata, mereka harus menghadapi banyak orang dengan opini yang berbeda-beda. Justru, ini saatnya mereka menyerap seluruh masukan yang disampaikan," kata Rinaldy, desainer aksesori ternama Indonesia, dalam jumpa pers.

"Karena kami semua profesional, kita tahu kok tempat kita masing-masing, dan apalagi di sini, kami ini tugasnya memberikan input. Tentunya, input yang membangun ya, bukan cuma mengkritik aja," imbuh Thresia yang menjabat sebagai Advisor JF3.

Lewat banyak opini yang bisa saja saling bertentangan, sambung Thresia, para finalis ditantang untuk membuat keputusan sesuai pendirian mereka. Harapannya, lewat ajang itu, kemampuan para desainer muda Indonesia bisa bertambah dan kualitas industri fesyen dalam negeri semakin meningkat.

"Untuk memajukan industri fashion Indonesia, kita membutuhkan desainer yang tidak hanya mampu menciptakan konsep, tetapi juga memiliki kemampuan untuk mengeksekusinya dengan baik. Kemampuan tersebut hanya dapat dibangun melalui pengalaman, tantangan, dan proses yang nyata," jelas Thresia.

5 Tema dalam 14 Hari

Bekerja sama dengan Susan Budihardjo Fashion Forward Institute, FFD ditujukan bagi lulusan sekolah fashion dari berbagai daerah di Indonesia. Dari puluhan pendaftar yang mengikuti proses seleksi, lima peserta terbaik terpilih untuk mengikuti program intensif yang berlangsung pada 12--26 Mei 2026.

Dalam waktu hanya 14 hari, para peserta ditantang menyelesaikan lima koleksi berdasarkan lima brief yang berbeda. Mereka harus melalui seluruh proses yang lazim dihadapi seorang fashion designer, mulai dari riset konsep, pemilihan material, penyusunan anggaran, pembuatan pola, proses produksi, styling, hingga presentasi di hadapan panel juri.

FFD menghadirkan lima tantangan berbeda, yaitu Prototype, The Curve, Re'Heritage, Multifunction, dan Opposite. Masing-masing dirancang untuk menguji aspek yang berbeda, mulai dari eksplorasi identitas desain, interpretasi budaya, inovasi, kemampuan beradaptasi, hingga penyelesaian masalah secara kreatif.

Lebih dari sekadar kompetisi, FFD merupakan simulasi dunia kerja yang menuntut peserta untuk berpikir, bekerja, dan mengambil keputusan layaknya seorang profesional di industri fashion. Penilaian tidak hanya berfokus pada kreativitas, tetapi juga mencakup kualitas produksi, kemampuan presentasi, pengelolaan proses kerja, serta konsistensi dalam menjawab setiap tantangan.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |