Turis Italia yang Tewas Saat Menyelam di Maladewa Dimakamkan, Kematiannya Menyisakan Misteri

10 hours ago 8

Liputan6.com, Jakarta - Dua dari lima turis Italia yang tewas saat menyelam di gua bawah laut Maladewa dimakamkan. Namun, kematiannya hingga kini masih menyisakan misteri.

Proses tutup penti untuk jasad Monica Montefalcone (51) dan putrinya, Giogia Sommacal, dilaksanakan di Gereja San Francesco di Pegli di Genoa, pada Sabtu, 30 Mei 2026. Sekitar 2.000 orang, terdiri dari keluarga, teman, mahasiswa, dan para dosen, menghadiri upacara pemakaman tersebut.

"Saya merasakan kekosongan yang besar, ketidakpercayaan yang mendalam," kata pendeta Don Corrado kepada jemaat gereja, dikutip dari NY Post, Minggu (31/5/2026). "Di lingkungan kami, Monica dan Giorgia sangat dikenal dan dicintai."

"Aku tidak tahu apakah aku akan memiliki kekuatan untuk membelai dan mencium peti mati itu untuk perpisahan terakhir," kata Carlo Sommacal kepada surat kabar sebelum masuk. "Aku ingin mengingat mereka dengan senyum mereka yang berseri-seri dan cerah, penuh kehidupan."

Jenazah ibu dan anak yang diletakkan di dalam dua peti mati kayu berwarna terang yang ditutupi lautan mawar putih, dibawa ke gereja, tempat foto keduanya di depan laut safir yang sangat mereka cintai dipajang. Sejak 2003, Montefalcone telah menerbitkan setidaknya empat makalah ilmiah di jurnal internasional yang melibatkan pengumpulan sedimen dari dasar laut dan sampel laut lainnya di Maladewa, pada kedalaman antara 210 dan 270 kaki, seperti yang diungkapkan surat kabar Italia Corriere Della Sera minggu ini.

Kedalaman tersebut bahkan lebih dalam daripada gua Atol Vaavu tempat kelompok tersebut kehilangan nyawa mereka, yang mencapai kedalaman maksimum 200 kaki.

Pengakuan Otoritas Maladewa soal Izin Penyelaman Turis Italia

Informasi tersebut mencuat di tengah saling menyalahkan antara otoritas Maladewa dan Universitas Genoa. Kasus Genoa dan operator kapal Albatros juga semakin intensif, di tengah penyelidikan pembunuhan yang dilakukan oleh jaksa Roma.

Pemerintah Maladewa akhirnya mengakui bahwa tiga dari lima turis Italia, yakni Montefalcone dari Universitas Genoa, Muriel Oddenino, dan Federico Gualtieri, memiliki izin untuk turun menyelam hingga kedalaman 160 kaki untuk mengambil sampel karang. Namun, nama dua penyelam lainnya, Sommacal dan instruktur selam Gianluca Benedetti, tidak tercantum dalam izin penelitian kelautan yang diajukan para ilmuwan tersebut kepada negara kepulauan itu pada Februari 2026.

"Mereka telah mengajukan proposal penelitian khusus – yang berfokus pada karang lunak dan komposisi sistem terumbu karang Maladewa – kepada Departemen Penelitian Kelautan, yang memberikan lampu hijau," kata Hussain Shareef, juru bicara pemerintah Maladewa, kepada surat kabar tersebut. Terumbu karang membutuhkan sinar matahari dan tidak akan ditemukan di kedalaman gua bawah laut, meskipun mungkin dapat bertahan hidup di dekat pintu masuknya.

"Masalah utamanya adalah itu adalah penyelaman gua dan proposal penelitian mereka tidak menyebutkannya," sambung Shareef.

Misteri yang Belum Terpecahkan

Informasi itu menambah dalam misteri kematian para turis Italia tersebut, terutama mengapa Montefalcone dan putrinya memutuskan menyelam hingga kedalaman 165 kaki tanpa peralatan yang memadai.

Hal itu diungkapkan penyelam profesional Sami Paakkarinen kepada La Repubblica, beberapa waktu lalu. "Peralatan yang kami temukan bersama mereka tidak optimal. Mereka tidak menggunakan perlengkapan khusus penyelaman gua."

Ia menambahkan, "Banyak penyelaman telah dilakukan hingga kedalaman itu, bahkan dengan perlengkapan rekreasi. Tetapi jika digabungkan dengan kedalaman dan lingkungan gua, waktu yang mereka miliki menjadi sangat terbatas, mereka sebenarnya bisa naik dengan selamat, tetapi waktu mereka habis."

Montefalcone dikenal baik oleh pemerintah Maladewa. Sejak 2006, ia telah menerbitkan setidaknya 34 studi bawah laut tentang negara tersebut dan mengajukan izin penelitian melalui Departemen Ilmu Bumi, Lingkungan, dan Kehidupan Universitas Genoa.

"Istri saya tentu tidak pergi ke sana untuk berjemur di pantai," kata suaminya, Carlo Sommacal, kepada surat kabar tersebut, merasa terbukti benar. "Ia memiliki keahlian yang luar biasa."

Diduga Tersesat di Lorong Gua Bawah Laut

Tim penyelam Finlandia yang menemukan jasad korban juga menduga para penyelam Italia itu salah mengambil lorong saat mencoba keluar dari gua bawah laut. Menurut laporan harian Italia La Repubblica, para korban ditemukan di koridor buntu di dalam kompleks gua.

"Tidak ada jalan keluar dari sana," kata CEO DAN Europe, Laura Marroni, seperti dikutip La Repubblica.

Tim penyelam Finlandia menemukan bahwa gua di dekat Alimatha dimulai dengan ruang besar yang terang dengan dasar pasir. Di ujung ruangan itu terdapat koridor dengan sedikit cahaya, namun jarak pandang menggunakan pencahayaan buatan sangat baik.

Koridor tersebut panjangnya hampir 30 meter dan lebarnya sekitar tiga meter, mengarah ke ruang kedua gua berupa ruangan bundar besar tanpa cahaya alami. Di antara koridor dan ruang kedua terdapat gundukan pasir.

Menurut laporan, sangat mudah melewati gundukan pasir menuju ruang kedua, tetapi saat berbalik untuk keluar, gundukan itu tampak seperti dinding yang menutupi koridor keluar. Di sisi kiri gundukan pasir terdapat koridor lain.

"Semua jasad penyelam ditemukan di dalam koridor itu, seolah mereka mengira itulah jalan yang benar," kata Marroni.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |