Apakah Kulit Gatal dan Kemerahan Selalu Tanda Kulit Sensitif? Ini Penjelasan Dokter

4 hours ago 8

Liputan6.com, Jakarta - Kulit gatal, kering, kasar, atau kemerahan sering kali langsung dianggap sebagai tanda kulit sensitif. Padahal, gejala tersebut belum tentu selalu menunjukkan bahwa seseorang memiliki jenis kulit sensitif.

Kondisi itu bisa menjadi sinyal awal bahwa skin barrier atau lapisan pelindung kulit sedang terganggu. Founder Immuno Derma Clinic, Dr. dr. Windy Keumala Budianti, SpDVE, Subsp.DAI, FINSDV, FAADV, menjelaskan bahwa skin barrier merupakan lapisan pelindung alami kulit yang berfungsi menjaga kelembapan sekaligus melindungi kulit dari iritan, polusi, serta berbagai agresor dari luar. 

Ia menilai masih banyak orang yang terlalu fokus merawat skin barrier wajah, padahal area kulit lainnya juga butuh perhatian yang sama. Akibatnya, ketika fungsi skin barrier tubuh terganggu, gejala awal seperti kulit kering, kusam, kasar, gatal, hingga kemerahan sering muncul dan kerap disalahartikan sebagai sekadar kulit sensitif.

"Manifestasi pertama biasanya kulit kering. Tanda awalnya kusam, kasar, kemudian terasa gatal, lalu menjadi kemerahan. Itu karena bahan iritan lebih mudah masuk sehingga memicu peradangan," kata dr. Windy dalam peluncuran rangkaian perawatan tubuh Vaseline Pro Derma di Jakarta Selatan, Senin, 26 Mei 2026.

Ia menambahkan, skin barrier yang terus mengalami kerusakan dapat berkembang menjadi masalah kulit yang lebih serius, mulai dari jerawat tubuh, rosacea, hingga dermatitis atau eksim. Karena itu, kondisi kulit gatal dan kemerahan tidak selalu bisa langsung diartikan sebagai kulit sensitif tanpa mengetahui penyebab utamanya.

Kulit Gatal dan Kemerahan Belum Tentu Berarti Kulit Sensitif

Banyak orang menganggap kulit yang terasa gatal dan tampak kemerahan sebagai tanda pasti bahwa mereka memiliki kulit sensitif. Padahal, menurut Dr. Windy, gejala tersebut tidak selalu berkaitan langsung dengan jenis kulit, tetapi bisa menjadi tanda awal adanya gangguan pada fungsi skin barrier.

Lapisan pelindung alami kulit yang sehat seharusnya mampu menjaga kadar air sekaligus melindungi kulit dari paparan iritan. Ketika fungsi ini terganggu, kulit menjadi lebih mudah bereaksi terhadap faktor eksternal.

Menurut Dr. Windy, gejala awal kerusakan skin barrier biasanya dimulai dari kondisi kulit yang terasa kering, kusam, dan kasar. Setelah itu, kulit bisa mulai terasa gatal dan memerah karena zat iritan lebih mudah masuk ke lapisan kulit sehingga memicu peradangan. Jika kondisi ini dibiarkan terus-menerus, gangguan tersebut bisa berkembang menjadi masalah yang lebih serius.

“Kalau sudah muncul jerawat atau penyakit seperti eksema, itu berarti skin barrier rusaknya sudah cukup parah. Tanda awalnya memang ada gatal, ada kering, dan lain-lain,” jelasnya.

Kebiasaan Sehari-hari Bisa Memicu Kerusakan Skin Barrier

Kerusakan skin barrier ternyata tidak hanya dipicu oleh kondisi medis, tetapi juga kebiasaan sehari-hari yang sering dianggap sepele. Senior Brand Manager Vaseline, Melisa Caroline, menjelaskan bahwa banyak perempuan Indonesia sudah cukup peduli terhadap perawatan kulit, tetapi faktor eksternal seperti sinar matahari, AC, dan polusi tetap dapat memengaruhi kondisi skin barrier tubuh.

Paparan AC dalam waktu lama, misalnya, dapat membuat kulit kehilangan kelembapan alami. Begitu pula dengan polusi udara dan sinar matahari yang terus-menerus mengenai kulit saat beraktivitas di luar ruangan. Selain itu, iklim tropis seperti di Jakarta juga membawa tantangan tersendiri karena suhu panas dan kelembapan tinggi bisa memicu keringat berlebih, yang pada sebagian orang justru menyebabkan rasa gatal.

Dr. Windy juga menyoroti penggunaan pakaian tertutup yang tidak sesuai bahan dapat membuat kulit menjadi terlalu lembap, berkeringat, lalu memicu gangguan pada skin barrier. "Kalau keringat saja sudah menimbulkan rasa gatal, itu artinya memang skin barrier-nya sudah terganggu," ujarnya. 

Jangan Diagnosis Sendiri

Di era digital, informasi soal skincare sangat mudah diakses. Namun, banyaknya informasi justru sering membuat masyarakat melakukan diagnosis mandiri tanpa benar-benar memahami kondisi kulitnya. Menurut Dr. Windy, setiap orang memiliki kondisi kulit yang berbeda sehingga perawatan yang cocok pun tidak bisa disamaratakan.

Ia menyarankan langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengenali kondisi kulit sendiri, memperhatikan perubahan yang muncul, lalu memilih produk yang sesuai dan nyaman digunakan sehari-hari. Jika keluhan seperti gatal, kering, atau kemerahan terus berlanjut, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter spesialis kulit.

"Kalau keluhan terjadi, segera konsultasi ke dokter supaya mendapatkan informasi yang benar dan penanganan yang tepat," kata Dr. Windy.

Hal serupa juga disampaikan Nikita Willy, yang mengaku sebelumnya lebih fokus merawat skin barrier wajah dibanding tubuh. Seiring waktu, ia menyadari bahwa kesehatan kulit tubuh juga perlu mendapat perhatian yang sama, terutama karena kondisi kulit setiap orang bisa berbeda.

"Kita sering kewalahan dengan banyak informasi. Tapi kalau dijelaskan dokter dan experts, kita jadi tahu bahwa informasinya jelas, berbasis riset, dan bisa dijalankan," ujar Nikita.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |