Starbucks Korea Selatan Diboikot Pelanggan, Apa Pemicunya?

7 hours ago 7

Liputan6.com, Jakarta - Aksi boikot menimpa gerai-gerai Starbucks Korea Selatan sejak awal pekan ini. Salah satunya dilakukan Kim Hye Joon (30), pelanggan setia Starbucks, yang mengkritik tajam promosi Tank Day yang diluncurkan kedai kopi itu pada Senin, 18 Mei 2026, bertepatan dengan peringatan ke-46 Pemberontakan Gwangju.

"Saya pikir ini sangat ceroboh. Saya tidak tahu apa yang mereka pikirkan dengan acara dan kata-katanya," kata Kim kepada The Korea Times pada Rabu, 20 Mei 2026. "Saya tidak akan menghancurkan cangkir saya seperti beberapa orang di media sosial, tetapi jika ada kafe lokal di dekatnya, saya akan pergi ke sana saja."

Dikutip dari Korea Times, Jumat (22/5/2026), pemberontakan Gwangju merupakan salah satu sejarah kelam yang pernah terjadi di Korea Selatan. Peristiwa itu bermula dari gerakan pro-demokrasi yang meletus di Kota Gwangju barat daya pada 18 Mei 1980.

Warga bangkit melawan perpanjangan darurat militer nasional oleh junta militer yang dipinpin Chun Doo Hwan yang kemudian menjadi presiden pada tahun itu. Tindakan represi yang dilakukan militer pada saat itu menyebabkan ratusan orang tewas atau hilang, dan sejak itu diakui sebagai momen penting dalam perjalanan panjang Korea menuju demokratisasi.

Roh (29) yang meminta untuk diidentifikasi hanya dengan nama belakangnya, menyebut promosi yang diluncurkan gerai kopi itu naif. Ia yang mengaku jarang mengunjungi kedai kopi itu semakin enggan untuk datang, memilih mendatangi kedai kopi lokal sebagai gantinya.

"Saat ini, bahkan idola K-pop dengan kewarganegaraan asing pun tidak merekomendasikan anime Jepang pada Hari Pembebasan. Ada kesadaran tak terucapkan (tentang sejarah Korea) yang dimiliki semua orang," kata Roh. "Fakta bahwa merek kafe paling populer di Korea melakukan ini pasti akan memicu kemarahan."

Permintaan Maaf Jaringan Pemilik Starbucks Korea

Kim Dong Young (29) menyuarakan sentimen serupa, menyebut keputusan untuk menjalankan promosi pada tanggal tersebut sebagai kegagalan pemasaran yang jelas. "Saya mungkin tidak akan pergi ke Starbucks untuk sementara waktu," ucapnya.

Reaksi negatif ini sangat terasa di Gwangju, tempat Starbucks memiliki kepadatan gerai per kapita tertinggi kedua di negara itu, dengan satu gerai untuk setiap 19.000 penduduk, hanya kalah dari Seoul yang memiliki satu gerai per 13.000 penduduk. Ketua Shinsegae Group, Chung Yong Jin, yang memiliki Starbucks Korea, telah meminta maaf atas nama konglomerasi itu, tetapi kelompok masyarakat di Gwangju menuntut penjelasan lengkap tentang bagaimana promosi tersebut disetujui.

Pada Rabu pagi, anggota kelompok masyarakat berkumpul di tengah hujan di luar Shinsegae Department Store di Distrik Seo, Gwangju, untuk menyerukan pengunduran diri Chung. Foto-foto gerai Starbucks yang hampir kosong di kota itu juga beredar secara online.

Jadi Isu Politik Lokal

Reaksi keras itu juga meluas ke arena politik menjelang pemilihan lokal 3 Juni 2026. Pemimpin Partai Demokrat Korea (DPK) yang berkuasa, Anggota Kongres Jung Chung-rae, pada hari yang sama mendesak anggota partai dan pekerja kampanye untuk menghindari Starbucks, menambahkan bahwa menahan diri dari kunjungan akan lebih mencerminkan sentimen publik.

"Para kandidat DPK dan rekan-rekan mereka yang terlibat dalam kampanye yang mengunjungi Starbucks dapat meninggalkan kesan buruk pada masyarakat," kata Jung.

Jung juga menyerukan hukuman yang lebih berat bagi mereka yang mengejek atau merendahkan gerakan pro-demokrasi. "Jerman menghukum dengan keras mereka yang mengagungkan atau membela Holocaust," kata Jung.

"Kami akan mendorong legislasi yang memungkinkan hukuman yang lebih berat bagi mereka yang mengejek atau merendahkan pemberontakan 18 Mei atau gerakan pro-demokrasi lainnya." Berdasarkan undang-undang khusus 2021, mendistorsi atau memfitnah gerakan pro-demokrasi Gwangju dapat dihukum hingga lima tahun penjara. 

Boikot Pengaruhi Acara

Kubu calon Wali Kota Seoul dari DPK, Chong Won O, juga mengeluarkan larangan internal terhadap Starbucks pada Rabu, 20 Mei 2026, menginstruksikan semua staf untuk menghindari gerai tersebut dan membawa pulang barang-barang Starbucks yang telah dibeli sebelumnya seperti gelas dan cangkir untuk menghindari kesan dukungan.

Politisi progresif lainnya, termasuk Anggota Parlemen Son Sol dari Partai Progresif sayap kiri dan calon Wali Kota Seoul dari Partai Keadilan, Kwon Young Kook, juga mengunggah pesan yang menyerukan boikot Starbucks di media sosial.

Reaksi keras yang meningkat juga mencapai industri acara. Festival Jazz Seoul, yang berlangsung Jumat hingga Minggu di Taman Olimpiade di Distrik Songpa, mengumumkan pada hari tersebut bahwa mereka tidak akan mengoperasikan stan Starbucks akhir pekan ini.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |