Shinkansen Terlambat 3 Menit karena Kondektur Ketiduran, Permintaan Maaf Perusahaan Picu Pro Kontra

8 hours ago 6

Liputan6.com, Jakarta - Satu lagi insiden keterlambatan melibatkan shinkansen, kereta cepat di Jepang. Keterlambatan selama tiga menit itu disebabkan oleh seorang kondektur yang terlambat bangun dari tidurnya. Pihak perusahaan, yakni JR East Divisi Aomori, sampah harus meminta maaf kepada publik atas keterlambatan yang terjadi. 

Mengutip Japan Today, Jumat (24/4/2026), menurut JR East, kereta Hayabusa 24 di Tohoku Shinkansen dijadwalkan berangkat pukul 13.52 pada 18 April 2026 dari Stasiun Shin-Hakodate-Hokuto menuju Tokyo. Beberapa saat sebelumnya, kondektur yang bersangkutan sedang tidur siang di ruang istirahat karyawan.

Ia telah memasang alarm untuk mengejar keretanya tetapi tertidur hingga alarm berbunyi, akhirnya bangun sekitar pukul 13.50 dan melewatkan waktu yang telah ditentukan beberapa menit. Meskipun tidak ada keluhan langsung, JR East mengatakan, "Kami dengan tulus meminta maaf atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan kepada pelanggan kami. Kami akan berusaha untuk mencegah hal ini terjadi lagi."

Pernyataan tersebut menuai pro kontra di publik. Banyak yang merasa ini sama sekali bukan masalah dan tidak perlu permintaan maaf, apalagi laporan dari kantor berita besar Jepang. Yang lain tidak setuju dan merasa membiarkan hal seperti ini berlalu adalah jalan menuju perilaku yang dapat membahayakan nyawa orang.

"JR East menjadi berita nasional karena keterlambatan tiga menit akibat ketiduran," kata seorang warganet. "Berikan saja peringatan keras dan lanjutkan tanpa memperbesar masalah," imbuh yang lain.

"Shinkansen tidak akan menunggu penumpang yang terlambat tiga menit, tetapi untuk kondektur tidak apa-apa?" sindir warganet berbeda. "Itu bisa dimaafkan. Semua orang bekerja keras, dan keterlambatan terkadang terjadi," kata warganet yang cenderung pro.

Sejarah Shinkansen

Nama Shinkansen begitu tersohor di dunia karena menginspirasi negara lain untuk merintis moda transportasi serupa di tempatnya masing-masing, termasuk Indonesia. Itu adalah layanan kereta api berkecepatan tinggi pertama di dunia yang diluncurkan pada 1 Oktober 2964, hanya beberapa hari sebelum Jepang menjadi tuan rumah Olimpiade pertamanya.

Mengutip AFP, Selasa, 1 Oktober 2024, rute perdananya – Tokaido Shinkansen – menghubungkan dua kota terbesar di Jepang, Tokyo dan Osaka. Perjalanan ini menempuh jarak 515 km hanya dalam empat jam, lebih cepat 2,5 jam dibandingkan menggunakan kereta reguler sebelumnya. Pada saat itu, kecepatan tertinggi Shinkansen adalah 210 km/jam, menjadikannya kereta tercepat di dunia.

Saat ini, Shinkansen melaju dengan kecepatan hingga 285 km/jam sehingga perjalanan dari Tokyo ke Osaka hanya memakan waktu sekitar dua jam. Namun pembangunannya bukannya tanpa tantangan.

Ketika rencana pembangunan Shinkansen mulai berjalan pada 1957, banyak yang menentangnya dengan alasan berkurangnya penggunaan kereta api di Amerika Serikat. Belum lagi kondisi perekonomian negeri matahari terbit itu terguncang akibat kekalahan di Perang Dunia II. 

Siapkan Teknologi Mitigasi Gempa

Seiring dengan boomingnya perekonomian Jepang di era 1950an, pemerintah semakin maju dan memandang Shinkansen sebagai hal yang penting untuk menghubungkan wilayah-wilayah yang paling padat penduduknya di Jepang. Hasilnya adalah sebuah 'keajaiban teknik'.

Di negara dengan daerah pegunungan, para ahli Jepang harus menemukan cara untuk mengatasi tantangan geografis. Desain Shinkansen yang panjang atau aerodinamis, misalnya, memungkinkan fasilitas menjadi kompak, seperti terowongan yang lebih kecil dan jarak antar-rel yang lebih pendek.

Para ahli juga sudah memikirkan sistem pendeteksi yang dapat menghentikan kereta dengan sangat cepat jika terjadi aktivitas seismik. Menurut pemerintah Jepang, mekanisme kemiringan kereta yang bersandar pada tikungan dengan kecepatan tinggi dan badan kedap udara meminimalkan getaran serta memberikan perjalanan yang mulus dan tenang.

Ubah Lanskap Perjalanan dan Kehidupan Sosial di Jepang

Tujuan dari Shinkansen adalah untuk menghubungkan kota-kota Jepang yang ramai dan membawa orang ke ibu kota. Ketika Shinkansen identik dengan kecepatan dan efisiensi, hal ini mengubah lanskap perjalanan dan perkotaan Jepang. Kemampuan untuk menempuh jarak 515 km hanya dalam waktu dua jam membuka jalan baru untuk bekerja dan bersantai, memungkinkan orang untuk mempertimbangkan untuk tinggal lebih jauh dari pekerjaan mereka.

Operasional Shinkansen menunjukkan dampaknya pada perekonomian di Jepang, terutama di kota-kota yang dilewati rute kereta tersebut. Salah satunya menurut Christopher Hood, peneliti di Universitas Cardiff Inggris yang menulis buku Shinkansen: Dari Kereta Peluru Hingga Simbol Jepang Modern, karena 'bisnis tatap muka sangat, sangat penting'. 

Namun, kereta berkecepatan tinggi juga berperan dalam mempercepat depopulasi di pedesaan Jepang, menyebabkan banyak lansia terisolasi. "Orang-orang lebih suka tinggal di kota-kota besar… dan kemudian menggunakan Shinkansen untuk pergi mengunjungi kerabat di kota-kota kecil jika mereka perlu," kata Hood kepada AFP.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |