Kebaya Janggan Sapto Djojokartiko Curi Perhatian di Cannes 2026, Dikenakan Kamila Andini

8 hours ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Berpose di antara para peraih penghargaan di Women in Cinema yang jadi bagian dari Festival Film Cannes 2026, Kamila Andini terlihat spesial. Sutradara film Gadis Kretek itu membawa kebaya janggan, busana nasional Indonesia ke ajang internasional. 

Kebaya tersebut dirancang rumah mode Sapto Djojokartiko. Kepada Lifestyle Liputan6.com, Senin, 18 Mei 2026, kebaya berbahan beludru dengan warna spesial, capri, ternyata terinspirasi dari perpaduan busana bangsawan tradisional Sunda dan Jawa yang kemudian diinterpretasikan kembali dengan sentuhan modern yang elegan.

"Siluet klasik tersebut diperkaya dengan detail payet SAPTOJO Pattern Noni pada bagian belakang kebaya, menciptakan tampilan yang anggun dan berkarakter," kata tim Sapto Djojokartiko secara tertulis.

Kebaya itu dipadukan dengan rok panel yang dihiasi full payet untuk 'menonjolkan kualitas savoir-faire kami'. Detail belahan rok, sambung mereka, memberikan kesan lebih elegan, feminin, dan sophisticated, sekaligus memperkuat identitas desain 'yang sangat khas Sapto Djojokartiko'.

Kamila melengkapi busananya dengan set perhiasaan dari Frank & Co, dari anting-anting model bunga serasi dengan brosnya. Ia juga membawa clutch berhias bordiran emas.

Kehadiran Kamila di ajang tersebut untuk menerima penghargaan dalam program Women in Cinema Spotlight yang diselenggarakan Red Sea Film Foundation di Festival Film Cannes 2026. Program tersebut dirancang untuk memperkuat suara perempuan pembuat film dari kawasan Arab, Afrika, dan Asia di panggung global.

Cetak Sejarah di Women in Cinema

Mengutip Fimela, Kamila Andini menjadi sineas pertama dari Asia Tenggara yang disorot dalam Women in Cinema Spotlight — sebuah program yang selama ini telah menampilkan filmmaker dari dunia Arab, Afrika, dan Asia Selatan. Pencapaian ini sekaligus menjadi pengakuan nyata atas posisi sinema Indonesia di mata dunia.

Red Sea Film Foundation adalah lembaga nirlaba internasional yang berbasis di Jeddah, Arab Saudi, dengan misi mendukung perkembangan sinema dari kawasan Arab, Afrika, dan Asia. Program Women in Cinema yang mereka gelar setiap tahun di Cannes telah menarik perhatian media global — dengan liputan yang menjangkau 8,4 miliar impresi pada 2025, dan tahun ini dihadiri pula oleh Chloe Zhao, Demi Moore, Alicia Vikander, dan Diane Kruger.

"Penghargaan ini bukan hanya milik saya — ini milik seluruh sineas perempuan Indonesia yang telah berjuang untuk bercerita dengan jujur dan berani. Saya berharap kehadiran saya di sini bisa membuka lebih banyak pintu bagi generasi berikutnya," ujar Kamila dalam siaran pers.

Bawa Karya Film Terbaru

Kamila hadir di Cannes bersama film terbarunya, Empat Musim Pertiwi (Four Seasons in Java) — sebuah ko-produksi internasional dari delapan negara yang diproduseri oleh Ifa Isfansyah (Forka Films). Film ini menjadi produksi film Indonesia yang melibatkan enam negara lain, yakni Prancis, Belanda, Norwegia, Polandia, Singapura, dan Saudi Arabia, dengan bintang utama Putri Marino, Arya Saloka, serta Christine Hakim.

Digarap dengan bahasa sinema yang khas — liris, penuh perasaan, dan berakar kuat pada tanah Jawa — Empat Musim Pertiwi adalah film yang berbicara tentang perempuan, tentang kehilangan, dan tentang cara manusia bertahan dalam perubahan musim hidupnya. Sebuah cerita yang sepenuhnya Indonesia, sepenuhnya universal.

Sementara, karya-karyanya sebelumnya, di antaranya The Seen and Unseen (2017) dan Before, Now & Then (Nana) (2022), telah menembus berbagai festival film bergengsi dunia, seperti International Film Festival Rotterdam, Berlinale, Toronto International Film Festival, dan Busan International Film Festival. 

Sejarah Kebaya Janggan

Popularitas kebaya janggan mencuat seiring dengan populernya serial Gadis Kretek yang diperankan Dian Sastro. Kebaya itu memiliki ciri khas tutup kancing sebelah kiri dan kerah tinggi menutupi leher.

Seorang penjahit asal Garut bernama Gielang Gumilang juga sempat kebanjiran pesanan kebaya itu, terutama setelah Dian mengenakan kebaya itu dalam keseharian. Dalam cuitannya di X pada Kamis, 9 November 2023, ia menuliskan bahwa kebaya janggan ini sebetulnya sudah lama dikenakan wanita Indonesia.

Para pahlawan wanita, seperti Nyi Ageng Serang, Cut Meutia, sampai Raden Ratna Ningsih (istri Pangeran Dipenogoro), menurut Gielang juga suka mengenakan kebaya janggan dengan kerah tinggi menutupi leher. Menurut Gielang, nama janggan berasal dari kata jangga yang berarti leher, yang menggambarkan keindahan dan kesucian kaum wanita keraton dan wanita Jawa pada umumnya. Kebaya ini harus berwarna hitam karena menggambarkan ketegasan, kesederhanaan dan kedalaman, juga sifat keputihan yang suci dan bertakwa.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |