Liputan6.com, Jakarta - Sampah puntung rokok kini menjadi polutan yang paling persisten dan sulit dikendalikan, terutama di kawasan pesisir dan laut.
Hal ini menarik, sebab, sebelumnya, isu sampah plastik dan limbah makanan yang selalu mendominasi perbincangan lingkungan di Indonesia. Namun, sebuah temuan dari hasil riset dan audit terbaru menunjukkan pergeseran ancaman.
Indonesia, sebagai salah satu konsumen rokok terbesar di dunia, menghasilkan 322 miliar batang rokok per tahun. Angka ini setara dengan sekitar lebih dari 100 ribu ton puntung rokok setiap tahun. Limbah kecil yang seringkali dianggap remeh ini ternyata merupakan sumber utama polusi mikroplastik dan bahan kimia berbahaya yang selama ini terabaikan dalam kebijakan lingkungan nasional.
Sorotan kritis ini menjadi benang merah dalam diskusi publik bertajuk "Jejak Sampah Rokok di Tiap Langkah: Menagih Akuntabilitas Industri" yang diselenggarakan secara daring oleh Aliansi Zero Waste Indonesia bersama Lentera Anak pada 17 November 2025.
Mereka mengkritisi bahaya sampah puntung rokok yang menjadi sumber signifikan polusi plastik dan bahan kimia berbahaya, namun belum diakomodasi secara memadai dalam kebijakan nasional.
Temuan ini menegaskan perlunya tindakan tegas pemerintah untuk menerapkan prinsip Polluter Pays guna memastikan industri rokok menanggung biaya pembersihan, pemulihan lingkungan, dan dampak ekologis dari produknya.
Secara global, lebih dari 4,5 triliun puntung dibuang setiap tahun (WHO, 2022), menjadikannya limbah plastik paling umum dan menyumbang 30-40 persen sampah pantai. Isu limbah rokok harus segera dimasukkan ke dalam Rencana Aksi Nasional (RAN) Pengelolaan Sampah serta kebijakan kesehatan masyarakat.
Bukti Kuantitatif Dominasi Sampah Rokok di Ruang Publik
Effie Herdi, Koordinator Campaign Lentera Anak, menjelaskan hasil Brand Audit Sampah Rokok yang dilakukan oleh Lentera Anak bersama tujuh organisasi mitra (275 relawan) di lima wilayah Jabodetabek pada April hingga Mei 2025 memberikan data kuantitatif yang menguatkan kekhawatiran ini.
Audit yang mencakup area publik seluas 67.204 m2 berhasil mengumpulkan 18.062 sampah rokok, di mana 93 persen berupa puntung.
Temuan ini menunjukkan kepadatan rata-rata yang sangat tinggi, yaitu 4 puntung rokok per 1 meter persegi. Ia juga menyatakan bahwa dalam 100 m2 bisa ditemukan 400 puntung dan 10 kemasan sampah rokok.
Data ini membuktikan bahwa polusi puntung rokok adalah fenomena keseharian di ruang publik perkotaan yang terjadi sistematis dan meluas. “Pencemaran bukan akibat perilaku individu, tapi konsekuensi struktural dari desain produk dan absennya regulasi,” ujarnya.
Ini sesuai dengan temuan WHO (2019) dan UNEP (2024) bahwa beban polusi tembakau adalah sistemik dan harus ditangani di tingkat produsen.
Sementara itu, data Ocean Conservancy (2022-2024) juga menunjukkan tren peningkatan tajam jumlah puntung yang ditemukan di pantai dunia. Dari 1,1 juta menjadi 1,9 juta dalam dua tahun, akibat lemahnya regulasi dan absennya akuntabilitas industri rokok.
Ancaman Mikroplastik dan Toksisitas dari Puntung Rokok
Kondisi ini sangat mengkhawatirkan mengingat puntung rokok adalah limbah beracun dan kerusakan yang ditimbulkan sangat berbahaya. Menurut Muhammad Reza Cordova, Peneliti pada Pusat Penelitian Oceanografi BRIN, setidaknya ada tiga bahaya utama yang ditimbulkan oleh puntung rokok, yaitu filter rokok berbahan selulosa asetat yang sulit terurai dan berpotensi menjadi mikroplastik dalam waktu yang panjang di lingkungan.
Selain itu, puntung rokok adalah limbah beracun yang mengandung nikotin, logam berat (Pb, Cd, Ni, As), dan senyawa toksik lainnya yang dapat mencemari organisme laut. Terdapat risiko kesehatan manusia karena bioakumulasi dan transfer kontaminan melalui rantai makanan laut dapat meningkatkan risiko paparan pada manusia, khususnya komunitas pesisir.
Reza Cordova juga memaparkan hasil riset BRIN di 18 pantai Indonesia selama periode Februari 2018 Desember hingga 2019 menunjukkan sampah puntung rokok berada di urutan delapan tertinggi dengan proporsi 6.47 persen, dan ditemukan satu puntung rokok setiap persatu meter persegi.
Temuan ini juga didukung oleh fakta bahwa Zhao & You (2024) mencatat Indonesia memiliki tingkat konsumsi mikroplastik tertinggi di dunia, sebagian berasal dari rantai makanan laut yang terkontaminasi puntung rokok.
Meskipun berbagai kajian ilmiah menyatakan puntung rokok mengandung bahan toksik dan logam berat, hingga kini tidak ada regulasi nasional yang mengkategorikannya sebagai limbah bahan berbahaya beracun (B3). Kementerian Lingkungan Hidup masih memasukkan puntung sebagai sampah rumah tangga, sehingga beban pembersihan sepenuhnya dipikul oleh masyarakat dan pemerintah daerah.
"Dari semua faktor ini puntung rokok sangat memenuhi dikategorikan sebagai sampah B3 karena berdampak pada kesehatan ekosistem maupun manusia," tegas Reza.
Terapkan Prinsip Polluter Pays
Para ahli dan organisasi sepakat bahwa telah terjadi ketidakadilan lingkungan di Indonesia, di mana biaya pembersihan puntung rokok dibebankan pada publik dan pemerintah. Sementara industri memperoleh keuntungan dari penjualan produk yang menghasilkan limbah beracun.
"Setiap penanggung jawab yang usaha dan atau kegiatannya menimbulkan pencemaran dan atau kerusakan lingkungan hidup wajib menanggung biaya pemulihan lingkungan. Industri rokok telah menciptakan polusi maka mereka harus membayar biaya penanganannya. Sehingga, seharusnya pemerintah menerapkan Polluter Pays Principle untuk memastikan industri rokok menanggung biaya pencemaran yang mereka ciptakan," kata Fajri Fadhillah, Senior Regional Campaign Strategist Greenpeace Southeast Asia.
.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5170648/original/006883400_1742615039-1742610975245_trik-diet-cepat-kurus.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5469493/original/053568700_1768123932-MixCollage-11-Jan-2026-04-31-PM-2766.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5328480/original/006901400_1756249791-snapins-ai_3707828591079985777.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5405457/original/019617700_1762482561-kikil__2_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5469261/original/072782000_1768102784-jennie_gda2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5469232/original/093781800_1768099413-WhatsApp_Image_2026-01-11_at_09.18.00__2_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5469086/original/053701500_1768056478-david-klein-INBqy9w0JBY-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5467829/original/097099200_1767931642-turis_di_kuil.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5441087/original/028978500_1765452635-nasi_bakar.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5468874/original/055336200_1768028655-Screenshot_2026-01-10_140317.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5469112/original/066155600_1768061121-jan-kopriva-aQCClWOS9dY-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2704251/original/000193900_1547530828-bendera_AS.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5468961/original/086247600_1768038955-Screenshot_2026-01-10_165532.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4968654/original/002188100_1728902633-WhatsApp_Image_2024-10-10_at_16.15.17__1_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5469015/original/014502600_1768042708-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5469000/original/009567400_1768042016-245337102_173957358225650_7280437241815299705_n__1__2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5355966/original/020828200_1758389756-SnapInsta.to_471635192_1112381627228737_5570600062492769313_n.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5465380/original/081858700_1767766630-buryam.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5209909/original/096595700_1746450876-asian-girl-washes-face_1150-11264__1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5467456/original/064448800_1767887749-pandwara1.jpeg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5373357/original/048602800_1759820171-SnapInsta.to_560669028_18535972480043602_4721668802629419488_n.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5414818/original/029407400_1763352077-ATK_BOLA_Byon_Combat_Showbiz_6.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5371768/original/035487700_1759720376-2024-04-09.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5360651/original/024353600_1758712937-SnapInsta.to_549127995_18051123983556714_494170281947543192_n.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5355547/original/062886800_1758342840-Poster___Apple_Artwork_-_VOS_Jalinan_Terlarang_-_Poster_PertamaLandscape.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4544161/original/099781700_1692463898-WhatsApp_Image_2023-08-19_at_10.23.31_PM.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,45,600,0)/kly-media-production/medias/5405283/original/043379500_1762433088-Rinanda_Aprillya_Maharani__3_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5350664/original/027185300_1758004811-Screenshot_2025-09-16_133834.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4918754/original/030969800_1723694238-cimahi.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5348639/original/004944200_1757841924-Screenshot_2025-09-14_162436.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5352627/original/038329600_1758105491-unnamed__30___1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5363725/original/098536500_1758960184-unnamed__35_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5371271/original/098149800_1759644548-unnamed__48_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1474388/original/004496700_1484626501-IMG_20170110_123013.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5373631/original/044574800_1759826535-unnamed__57_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/4836979/original/089302800_1716174604-20240519BL_Stadion_Batakan_20.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5390488/original/063405100_1761278709-Premier_League_2025-26_ATK_BOLA__2_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5376791/original/062457500_1760024376-Screenshot_2025-10-09_223604.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5378660/original/056383000_1760269796-WhatsApp_Image_2025-10-12_at_09.28.26.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5362649/original/088839700_1758871824-Screenshot_2025-09-26_142158.jpg)