Yayoi Kusama Berpulang, Kilas Balik Gaya Nyentrik dan Kiprahnya Sang Ratu Polkadot di Dunia Seni

7 hours ago 8

Liputan6.com, Jakarta - Dunia seni kehilangan salah satu sosok paling ikonik dan berpengaruh di era kontemporer. Yayoi Kusama, seniman asal Jepang yang selama puluhan tahun identik dengan motif polkadot, berpulang di usia 97 tahun. Kabar duka ini diumumkan lewat pernyataan resmi di situs webnya dan dikonfirmasi berbagai media internasional pada Kamis waktu setempat.

Kepergiannya menjadi kehilangan besar bagi dunia seni rupa global. Selama beberapa dekade terakhir, Kusama dikenal sebagai salah satu seniman kontemporer paling laris dan paling banyak dikunjungi pameran-pamerannya di seluruh dunia, mulai dari Infinity Mirror Rooms yang selalu ramai antrean pengunjung, hingga instalasi labu raksasa bermotif polkadot yang menjadi ikon tersendiri.

Namun di luar karya-karyanya yang megah, Kusama juga dikenal luas lewat penampilan personalnya yang sama nyentriknya. Rambut bob merah menyala yang nyaris tak pernah absen dari setiap kemunculannya di publik menjadi identitas visual yang melekat kuat, sama kuatnya dengan motif polkadot yang menghiasi hampir seluruh karyanya. Sepanjang kariernya, Kusama membangun dunia visual yang begitu personal, di mana gaya berpakaian dan penampilannya sendiri menjadi perpanjangan dari karya seni yang ia ciptakan.

Identik dengan Gaya Nyentrik

Gaya khas Kusama tak lahir begitu saja. Sejak kecil, ia kerap mengalami halusinasi yang melibatkan pola-pola berulang, termasuk bintik-bintik yang seolah memenuhi seluruh pandangannya hingga menutupi batas antara dirinya dan lingkungan sekitar. Pengalaman itulah yang kemudian menjadi fondasi filosofi seninya yang ia sebut sebagai "self-obliteration", proses melebur diri ke dalam pola tanpa akhir.

Motif polkadot yang menjadi tanda tangannya bukan sekadar pilihan estetika, melainkan representasi langsung dari pengalaman batinnya yang telah ia bawa sejak masa kanak-kanak. Begitu pula dengan rambut bob merahnya yang khas, yang seiring waktu menjadi bagian tak terpisahkan dari citra publik Kusama, sekuat karya-karya instalasi raksasa yang ia ciptakan.

Kombinasi rambut bob dan balutan busana bermotif polkadot inilah yang membuat sosok Kusama begitu mudah dikenali, bahkan oleh mereka yang mungkin belum pernah melihat langsung karya seninya. Ia kerap tampil dengan gaun-gaun berpotongan sederhana namun dipenuhi bintik-bintik besar berwarna kontras, menegaskan bahwa bagi Kusama, dirinya sendiri adalah bagian dari kanvas yang tak pernah selesai.

Seniman Kontemporer yang Produktif

Dalam perjalanan kariernya, Kusama dikenal sebagai salah satu seniman paling produktif dan berpengaruh di dunia seni kontemporer. Karyanya membentang dari lukisan, patung, hingga instalasi berskala besar seperti Infinity Mirror Rooms, ruangan berdinding cermin yang membawa pengunjung merasakan sensasi ruang tanpa batas lewat permainan cahaya dan pantulan warna-warni.

Sejak pindah ke New York pada akhir 1950-an dan menjadi bagian dari lingkar seni avant-garde di sana, Kusama terus mengembangkan gaya khasnya hingga akhirnya diakui sebagai salah satu seniman perempuan paling berpengaruh di dunia. Karyanya telah dipamerkan di museum-museum besar dunia, mulai dari MoMA New York, Centre Pompidou Paris, hingga Museum Ludwig di Cologne yang baru saja menggelar pameran besar karyanya awal tahun ini dengan lebih dari 300 karya dipamerkan.

Popularitasnya yang terus bertahan lintas generasi membuat Kusama juga dilirik oleh berbagai industri di luar dunia seni murni, termasuk industri mode kelas dunia. Karyanya yang mudah dikenali dan penuh energi visual membuatnya menjadi salah satu seniman yang paling banyak digandeng untuk kolaborasi lintas industri, salah satunya dengan rumah mode asal Prancis, Louis Vuitton.

Digandeng Louis Vuitton Sebagai Kolaborator

Salah satu kolaborasi paling ikonik dalam kariernya adalah kemitraannya dengan Louis Vuitton. Kolaborasi pertama terjadi pada 2012, saat Marc Jacobs masih menjabat sebagai direktur kreatif rumah mode tersebut. Koleksi bertajuk "Dots Infinity" ini menghadirkan motif polkadot khas Kusama pada berbagai siluet ikonik Louis Vuitton, seperti Keepall, Neverfull, Papillon, dan Speedy, hingga kini menjadi buruan kolektor di pasar barang bekas.

Satu dekade kemudian, pada awal 2023, kolaborasi kedua bertajuk "Creating Infinity" hadir di bawah arahan kreatif Nicolas Ghesquière. Koleksi ini menampilkan variasi motif seperti Painted Dots, Metal Dots, Infinity Dots, hingga Psychedelic Flowers pada berbagai siluet tas, termasuk Capucines dan Speedy Bandoulière, serta merambah ke lini ready-to-wear dan aksesori pria.

Peluncuran koleksi kedua ini sempat viral berkat transformasi toko-toko Louis Vuitton di berbagai negara yang dipenuhi polkadot raksasa, lengkap dengan sosok animatronic Kusama yang tampak begitu hidup terpajang di etalase, serta kampanye yang dibintangi sejumlah model dunia yang tampil dengan busana bermotif dot khas sang seniman.

Lewat dua kolaborasi ini, dunia mode turut merasakan bagaimana visi artistik Kusama mampu melampaui kanvas dan ruang instalasi, menyentuh keseharian jutaan orang lewat sepotong tas yang mereka bawa sehari-hari. Kepergian Kusama menandai berakhirnya babak panjang seorang seniman yang selama puluhan tahun berhasil membuat dunia melihat keindahan lewat pola-pola tanpa akhir, sebuah warisan yang akan terus hidup lewat karya-karyanya di berbagai penjuru dunia.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |