Pesona Ningrat Tunku Aishah Johara di Malam Resepsi Mangkunegaran, Anggun dengan Batik Warisan Sang Ibu

4 hours ago 2

Liputan6.com, Jakarta - Resepsi pernikahan BRAy YM Tunku Aishah Johara Binti Tunku Abu Bakar dan Muhammad Idris Ismail Yahya di Pura Mangkunegaran, Solo, pada 29 Agustus 2026 berlangsung dalam balutan nuansa tradisi yang begitu kental. Tak hanya lokasi dan prosesi adat yang sarat makna, busana kedua mempelai juga menjadi bagian penting yang mempertemukan warisan keluarga dengan sentuhan desain kontemporer.

Untuk momen istimewa tersebut, Tunku Aishah Johara tampil dalam balutan kebaya rancangan Didiet Maulana. Kebaya panjang bernuansa coral menjadi pilihan yang memberikan kesan hangat, feminin, sekaligus mewah ketika dikenakan sang pengantin.

Pilihan warna tersebut terasa semakin menonjol di tengah atmosfer klasik Pura Mangkunegaran. Warna coral menghadirkan kesan lembut dan romantis, tetapi tetap memiliki karakter kuat sehingga membuat penampilan Tunku Aishah terlihat anggun tanpa kehilangan statement.

Kebaya Coral dengan Panel Klasik dan Taburan Kristal 3D

Didiet Maulana merancang kebaya kutubaru panjang dengan siluet klasik sebagai busana utama Tunku Aishah. Salah satu detail yang mencuri perhatian adalah panel di bagian tengah yang mempertegas struktur kebaya sekaligus memberikan kesan jenjang pada tubuh sang pengantin.

Siluet klasik tersebut kemudian mendapatkan sentuhan couture melalui aplikasi payet kristal tiga dimensi. Kristal bernuansa coral, champagne, dan emas disusun untuk menciptakan permainan tekstur sekaligus kilau pada permukaan kebaya.

Detail tersebut membuat kebaya tampak dimensional ketika terkena cahaya. Alih-alih menggunakan ornamen yang terlalu ramai, permainan kristal justru ditempatkan sebagai aksen yang memperkaya permukaan kain sekaligus memberikan kesan mewah.

Perpaduan warna coral, champagne, dan emas juga menciptakan gradasi visual yang lembut. Nuansa hangat tersebut membuat busana terlihat romantis, tetapi tetap memiliki kemegahan yang sesuai dengan latar resepsi di lingkungan Mangkunegaran.

Batik Cinde Warisan Sang Ibu

Di balik keindahan kebaya tersebut, terdapat satu detail yang membuat penampilan Tunku Aishah terasa jauh lebih personal. Kebaya coral itu dipadukan dengan batik klasik Cinde yang merupakan warisan keluarga. Batik tersebut diketahui telah turun-temurun dan sebelumnya dikenakan oleh sang ibu, GRAy Retno Astrini, ketika menikah pada 1990.

Penggunaan batik keluarga ini memberikan makna tersendiri bagi penampilan Tunku Aishah. Wastra tersebut bukan sekadar pelengkap busana, melainkan menjadi penghubung antara generasi sebelumnya dengan babak baru kehidupan sang pengantin.

Di tengah rancangan kebaya yang dibuat khusus untuk Tunku Aishah, kehadiran batik Cinde warisan sang ibu menghadirkan sentuhan emosional. Sebuah busana pernikahan pun berubah menjadi medium untuk membawa kisah keluarga ke dalam momen sakral.

Nuansa tradisional juga semakin terasa melalui rangkaian prosesi pernikahan yang berlangsung di Mangkunegaran. Tunku Aishah bersama Idris dan orangtua Idris terlebih dahulu berada di Prawedanan sebelum menuju Pendopo. Pasangan tersebut kemudian menaiki kereta kuda Kyai Kasantosan, yang memiliki makna "kedamaian".

Prosesi dilanjutkan dengan Tirto Wening, Gepyokan, dan Selindur. Setelah kedua mempelai dan orang tua duduk di pelaminan, acara diteruskan dengan tari selamat datang serta Beksan Golek Montro dari Kawedanan Panti Budaya. Rangkaian tersebut mempertemukan tradisi keluarga dengan kemegahan arsitektur dan budaya Mangkunegaran, menciptakan suasana resepsi yang terasa begitu intim sekaligus aristokratik.

Idris Tampil dalam Busana Langenarjan

Sementara Tunku Aishah tampil dengan kebaya coral penuh detail kristal, sang suami, Muhammad Idris Ismail Yahya, mengenakan busana Langenarjan koleksi pribadi yang dipadukan dengan kain sogan antik. Pilihan tersebut menciptakan pasangan busana yang harmonis. Nuansa klasik pada busana Idris menjadi penyeimbang bagi kebaya Tunku Aishah yang memiliki permainan warna dan kilau lebih menonjol.

Pernikahan Tunku Aishah dan Idris bukan hanya menjadi pertemuan dua individu, tetapi juga mempertemukan dua latar keluarga yang memiliki sejarah dan tradisi masing-masing. Tunku Aishah merupakan putri dari GRAy Retno Astrini, putri KGPAA Mangkunegara VIII, dan YBM Tunku Abu Bakar Ibni Tunku Abdul Rahman. Sementara Idris merupakan putra dari Datuk Yahya Jaafar dan Datin Suraiya Hassan.

Kehadiran KGPAA Mangkoenegoro X bersama kakak tercinta Tunku Aishah, GRAj Ancillasura Marina Sudjiwo, turut menambah suasana kekeluargaan dalam perayaan tersebut. 

Melalui rancangan kebaya coral ini, Didiet Maulana seolah tidak hanya merancang busana pengantin, tetapi juga menerjemahkan cerita keluarga ke dalam sebuah karya. Kebaya kutubaru panjang dengan kristal tiga dimensi memberikan sentuhan modern, sementara batik Cinde membawa memori pernikahan sang ibu puluhan tahun silam.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |