Pesona Anggrek Merapi, Tanaman Anggota Sabuk Gunung yang Jadi Bioindikator Kesehatan Lingkungan

23 hours ago 11

Liputan6.com, Jakarta - Taman Nasional Gunung Merapi di Jawa Tengah menyimpan banyak spesies endemi yang memesona. Selain elang Jawa dan lutung Jawa, ada Anggrek Merapi. Anggrek Merapi punya warna dasar putih dengan motif “loreng” ungu dan kehitaman.

Durabilitas Anggrek Merapi saat mekar bisa berbulan-bulan, memberi tiap insan kesempatan untuk mengagumi indahnya lebih lama. Disebut endemik karena Anggrek Merapi berada dan tumbuh di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi, sekitar 1.400 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Pekan ini, Liputan6.com berkesempatan mengunjungi Taman Nasional Gunung Merapi, sebagai bagian dari program Media Trip Aqua, 'Adem from the Source: A Journey from Nature to Soul' di Solo, Jawa Tengah. Sebagai tanaman endemik, Anggrek Merapi berumur panjang.

Masa berbunganya sekali dalam setahun. Bunganya bisa bertahan dua sampai tiga bulan. Bunga ini bukan hanya berfungsi sebagai 'aksesori' Taman Nasional Gunung Merapi, tapi juga bagian dari ekosistem yang menopang konservasi air dan tanah Merapi.

Pihak Taman Nasional Gunung Merapi telah menjadikan anggrek ini ikon karena genetiknya lahir di kawasan ini. Yang tak kalah penting, dari aspek sabuk gunung, Anggrek Merapi bagian dari ekosistem atas.

"Ada dua sabuk air, yaitu bawah berada di ketinggian 500 sampai 700 meter di atas permukaan laut. Nah, ini sudah 1.000 meter ke atas, ini sabuk atas daerah perlindungannya," kata Parli, anggota kelompok Padepokan Konservasi Ekologi Masyarakat (Pakem).

Peran Anggrek Mawar Dalam Ekosistem

Stakeholder Relation Manager Aqua Klaten, Rama Zakaria menyebut, Anggrek Merapi bukan sekadar pemanis di lereng gunung. Ia secara tidak langsung memaksimalkan resapan air hingga ke level akuifer. Sebagai informasi, akuifer adalah lapisan kulit bumi berpori yang dapat menahan air dan terletak di antara dua lapisan yang kedap air.

"Maksudnya, Anggrek Merapi kan menempel di inang. Dia akan menjadi suatu tutupan atau kanopi dalam bagian pohon yang memperlambat air masuk dan menghancurkan agregat tanah. Kita tidak melihatnya secara individu melainkan satu kesatuan ekosistem," ulasnya.

Anggrek butuh tanaman inang yang kuat. Merujuk pada proses adopsi ke Taman Nasional Gunung Merapi, inang kuat sangat penting karena pergerakan angin di ketinggian 1.000 mdpl terbilang kuat. Pohon Puspa, paling kuat menahan pergerakan angin. Itulah sebabnya, Puspa kerap dianggap sebagai 'belahan jiwa' Anggrek Merapi.

"Saya pernah mengadopsi pribadi, enggak pakai Puspa, tapi Akasia. Memang hidup, tapi, pertumbuhannya enggak segemuk atau secepat jika inangnya Puspa. Mungkin ini karena kelembapan dan karakter air yang dikandung pohon Puspa," tutur Rama.

Anggrek Merapi dan Pohon Puspa

"Karakterstik lain, pohon Puspa dari akar ke cabang pertama pada batang itu tinggi sekali. Secara keamanan, lebih aman bagi Anggrek Merapi untuk bertumbuh dan berkembang," Rama menyambung seraya membahas pentingnya adopsi Anggrek Merapi.

Pekan ini, para wartawan dan Tim Aqua yang terbagi dalam tiga kelompok mengadopsi Anggrek Merapi di Taman Nasional Gunung Merapi. Ini ditandai dengan momen Marketing Director Aqua, Adisti Nirmala, menaiki tangga lalu mengikatkan Anggrek Merapi ke batang pohon Puspa.

Pelestarian dan adopsi Anggrek Merapi bagian dari mengharmonisasikan konservasi bawah tanah (bellow the ground) dan atas tanah (above the ground). Keduanya harus berjalan seiring mengingat, di level above the ground, ada pesoalan sosial dan lingkungan.

"Bagaimana mengharmonisasi itu semua. Anggrek Merapi menjadi satuan ekosistem yang ada di daerah recharge ini selain MPTS (multi purpose tree species) seperti alpukat, kopi, cokelat, dan lain-lain," beri tahu Rama Zakaria kepada Liputan6.com.

Tembakau, Mawar, dan Holtikultura

Dengan kata lain, Anggrek Merapi salah satu dari sekian banyak tanaman anggota sabuk atas Gunung Merapi. Berkaca pada fakta, sejak dulu, kebanyakan petani di daerah Gumuk, tak jauh dari Merapi, 'mesra' dengan tembakau, mawar, dan holtikultura.

"Holtikultura itu sayur-sayuran, umurnya pendek, dua atau tiga bulan bisa panen lalu tanah kosong. Nah, ancaman seriusnya di situ. Kalau tanah terbuka, kena hujan deras, agregasinya terlepas, maka mudah tererosi," ujar Manajer Konservasi Danone Indonesia, Budi Rahardjo.

Sejak konsep konservasi air dan tanah diperkenalkan, para petani mulai berkenalan dengan beragam tanaman dari kopi, alpukat, mangga, jambu, hingga indigofera. Indigofera cocok dijadikan pakan ternak dan berperan penting dalam ekosistem sabuk gunung.

"Dengan pola tanam seperti ini, lahan tidak akan kosong karena selalu ada rotasi tanaman. Di beberapa jalur ini ada tanaman untuk pakan ternak seperti rumput dan indigofera, ini perakarannya sangat lebar, nilai proteinnya tinggi sebagai pakan ternak," urai Budi.

Berfungsi Sebagai Bioindikator

Rotasi tanaman ini memberi manfaat ekonomi dan ekologi bagi warga di lereng Merapi. Dari sana, Anggrek Merapi dan kawan-kawan berperan besar dalam menjaga ekosistem kawasan hulu, termasuk kualitas tanah juga air di dalamnya.

Anggrek endemik yang diberi nama Vanda tricolor ini berfungsi sebagai bioindikator, penanda alami yang menunjukkan kesehatan lingkungan. Jika Anggrek Merapi bisa tumbuh dengan baik, berarti lingkungannya sehat dan kondisi ekosistem (kawasan hulu) masih terjaga.

Water Science Team Aqua, Arif Fadhillah, menjelaskan perjalanan air dimulai dari kawasan hulu, salah satunya di Bukit Emmon (Emperan Merapi Montong), lereng Gunung Merapi. Bukit Emmon merupakan daerah tangkapan air, atau recharge area.

"Bukit Emmon bagian dari daerah tangkapan air yang memastikan air hujan masuk ke tanah. Di kawasan ini, air tidak langsung mengalir di permukaan, tapi meresap, tersaring secara alami, dan jadi bagian dari cadangan air tanah," Arif menerangkan.

Upaya yang dilakukan untuk menjaga hulu dimulai dengan pengendalian alih fungsi lahan untuk menjaga kawasan resapan tetap utuh, hingga penerapan agroforestry. Kondisi tanah dan vegetasi sangat menentukan bagaimana air terserap sejak awal.

"Akar tanaman menjaga struktur tanah tetap berpori, sehingga air lebih mudah masuk dan tersimpan di tanah dalam. Makin baik kondisi daerah tangkapan air, makin besar kemampuan alam menyerap, menyaring, dan melindungi air sejak awal prosesnya," pungkasnya.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |