Pesawat Turbulensi Hebat, 10 Orang Cedera dan Ponsel Beterbangan

4 hours ago 4

Liputan6.com, Jakarta - Turbulensi hebat menimpa pesawat Cathay Pacific dari Brisbane, Australia, menuju Hong Kong, pada Minggu, 24 Mei 2026. Sepuluh orang terluka karenanya, terdiri dari empat penumpang dan enam awak kabin.

Kepada 9 News, dikutip dari People, Senin (25/5/2026), maskapai itu mengonfirmasi bahwa delapan orang di antaranya membutuhkan perawatan di rumah sakit setelah turbulensi menghantam penerbangan CX156. Para tenaga medis segera siaga untuk menangani para penumpang di pesawat Airbus A350-900 begitu mendarat di Bandara Internasional Hong Kong pada pukul 06.45 pagi waktu setempat, tambah media tersebut.

Cathay Pacific mengatakan bahwa tenaga medis memberikan 'tingkat perawatan tertinggi' dan mengatakan bahwa cedera yang diderita 'ringan'. Foto-foto yang dibagikan di Facebook A Fly Guy's Cabin Crew, yang dikatakan berasal dari penerbangan tersebut, menunjukkan makanan, wadah makanan, minuman, dan peralatan berserakan di sekitar pesawat setelah turbulensi.

Seorang penumpang mengatakan kepada South China Morning Post bahwa rasanya seperti 'jatuh menembus menara terjun payung'. Penumpang lain, pengusaha Nicholas Stevenson, mengatakan kepada Australian Broadcasting Corporation (ABC) bahwa "pesawat tiba-tiba jatuh" dan dia mengira pesawat itu "akan jatuh."

"Telepon berterbangan, kopi pecah di atap, makanan berserakan di mana-mana," tambahnya. "Orang-orang berteriak. Banyak orang yang benar-benar panik."

Stevenson menerangkan bahwa turbulensi terjadi tepat ketika awak kabin mulai menyajikan sarapan. Dia menjelaskan bahwa tidak ada peringatan atau tanda sabuk pengaman sehingga awak kabin yang tak mengenakan sabuk pengaman jadi korban terbanyak.

Pesawat Tak Bisa Mendarat Darurat

Stevenson mengatakan pesawat jatuh dua kali berturut-turut. "Yang pertama mengejutkan semua orang, dan kemudian mungkin 15 atau 20 detik kemudian terjadi lagi," katanya kepada ABC. "Orang-orang yang baru saja berhasil kembali ke tempat duduk mereka atau berpegangan pada sesuatu terlempar lagi."

"Siapa pun [yang] tidak mengenakan sabuk pengaman akan terbentur atap," tambahnya.

Ia menjelaskan bahwa pramugari dan pramugara tampaknya paling terdampak karena mereka berdiri di lorong dengan troli layanan. Ia mengatakan penumpang baru menyadari parahnya situasi ketika mereka ditanya apakah ada dokter di dalam pesawat.

Ia mengatakan empat dokter di penerbangan tersebut membantu penumpang dan awak pesawat yang terluka saat penerbangan berlanjut ke Hong Kong. "Tidak ada tempat lain untuk mendarat," katanya kepada ABC. "Mereka hanya merawat orang-orang di bagian belakang pesawat sementara kami terus terbang."

"Pilot mengatakan mereka yakin itu semacam badai petir atau kilat," lanjut Stevenson. "Dia mengatakan mereka tidak benar-benar melihatnya di radar sampai menit terakhir karena sudah gelap."

Insiden Serupa di Delta Air Lines

Otoritas Bandara Hong Kong mengatakan kepada South China Morning Post bahwa mereka menerima laporan tentang penerbangan tersebut sekitar pukul 06.00 pagi waktu setempat dan 'segera meminta layanan pemadam kebakaran dan ambulans untuk siaga'. PEOPLE telah menghubungi Cathay Pacific dan Otoritas Bandara Hong Kong untuk meminta komentar tetapi belum ditanggapi.

Insiden yang menimpa Cathay Pacific hanya berselang dua bulan dari insiden turbulensi hebat yang menghantam penerbangan Delta Air Lines dari Los Angeles menuju Sydney. Tujuh orang, termasuk tiga pramugari dan pramugara yang dilarikan ke rumah sakit, dilaporkan terluka setelah penerbangan internasional mengalami turbulensi hebat saat mendekati Bandara Sydney.

Melansir Daily Mail, layanan darurat dipanggil ke bandara pada Jumat, 20 Maret 2026, sesaat sebelum pukul 7.30, waktu setempat, setelah menerima laporan bahwa beberapa penumpang dan awak pesawat mengalami cedera. Awak kabin terlempar ke udara dan penumpang terhentak dari tempat duduk mereka ketika kejadian. Tim ambulans New South Wales (NSW) dan petugas darurat bandara siaga saat pesawat mendarat untuk kemudian memeriksa sejumlah pasien di landasan.

Turbulensi di Pesawat Garuda Indonesia

Empat orang, termasuk kru dan penumpang lanjut usia, membutuhkan perawatan medis. Sementara itu, tiga pramugari dan pramugara dibawa ke rumah sakit dengan cedera kepala dan bahu. Pihak berwenang telah mengonfirmasi bahwa tidak ada cedera yang dianggap serius dan penyelidikan terhadap peristiwa turbulensi tersebut sedang berlangsung.

Akhir tahun lalu, penerbangan Garuda Indonesia GA 712 rute Jakarta–Sydney juga dilanda turbulensi parah pada 25 Desember 2025. Guncangan ini dirasakan menjelang pendaratan di Bandara Internasional Kingsford Smith, Sydney, Australia.

"Turbulensi terjadi secara tiba-tiba saat penumpang sudah pasang seat belt menjalang landing. Turbulensi ini menyebabkan sudden drop (penurunan ketinggian secara tiba-tiba) sejauh 400 meter," kata Fajar Radhitya Kusuma, salah satu penumpang penerbangan tersebut, melalui pesan pada Lifestyle Liputan6.com, 27 Desember 2025.

"Sudden drop-nya sangat cepat, setelahnya terjadi turbulensi-turbulensi kecil sekitar lima menit," ia menambahkan. Saat itu, Fajar mengaku "panik, takut, dan sedikit blank." Secara mental, ia bahkan sudah bersiap untuk "kemungkinan terburuk."

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |