Parfum Genderless Makin Digemari, Mengapa Aroma Tak Lagi Punya Label Cowok atau Cewek?

5 hours ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Batas antara parfum pria dan perempuan kian memudar. Jika dulu aroma maskulin identik dengan kayu, rempah, atau tembakau, sementara wewangian feminin lekat dengan bunga dan buah-buahan, kini semakin banyak konsumen memilih parfum berdasarkan preferensi pribadi, bukan label gender.

Tren tersebut ikut mendorong pelaku industri parfum menghadirkan produk yang dapat digunakan siapa saja tanpa membedakan identitas pemakainya. Perubahan perilaku konsumen terlihat semakin jelas di berbagai pameran kecantikan, termasuk Jakarta X Beauty (JXB) 2026.

Pengunjung tidak lagi terpaku pada rak parfum pria atau wanita, melainkan mencoba beragam aroma yang dirasa sesuai dengan karakter dan aktivitas mereka. Pergeseran ini mencerminkan cara pandang baru bahwa parfum merupakan bentuk ekspresi diri yang lebih personal dibanding sekadar pelengkap penampilan.

Owner Blackstag, Adhin Abdul Hakim, mengatakan sejak awal, mereknya tidak pernah membagi koleksi parfum ke dalam kategori khusus untuk laki-laki maupun perempuan. Menurutnya, setiap orang berhak memakai aroma yang disukai tanpa harus dibatasi stereotipe tertentu.

"Blackstag itu genderless. Unisex. Saya tidak pernah mau mengotak-ngotakkan parfum cowok atau parfum cewek. Lo suka ya lo pakai, lo suka ya lo beli," ujarnya saat ditemui di booth merek-nya di JXB, Kamis, 2 Juli 2026.

Konsep tersebut lahir dari pengamatan terhadap kebiasaan konsumen yang semakin terbuka mencoba berbagai jenis aroma. Banyak perempuan kini menyukai parfum bernuansa woody atau leathery yang sebelumnya dianggap maskulin.

Perubahan Selera

Sebaliknya, tidak sedikit laki-laki memilih aroma manis dengan sentuhan vanila atau karamel karena dinilai lebih nyaman dipakai sehari-hari. Fenomena itu juga terlihat dari pengalaman Blackstag selama mengikuti berbagai pameran.

Adhin bercerita, awalnya banyak orang menganggap produknya memiliki citra maskulin karena desain botol dan identitas visual yang didominasi warna hitam dan emas. Namun, kenyataannya pembeli perempuan justru datang dalam jumlah besar dan menjadi salah satu kelompok pelanggan yang aktif mencoba berbagai varian parfum.

"Banyak yang bilang Blackstag itu cowok banget. Tapi ketika kami ikut event, cewek-cewek justru banyak yang mampir dan beli. Mereka bilang suka aroma cowok dan suka tampilannya yang gagah," katanya.

Perubahan selera tersebut membuat produsen parfum mulai lebih fokus menghadirkan karakter aroma yang fleksibel. Alih-alih menciptakan komposisi berdasarkan gender, mereka merancang parfum sesuai suasana, aktivitas, dan kepribadian pemakainya.

Berikan Ruang Lebih Luas

Pendekatan ini memberi ruang lebih luas bagi konsumen untuk memilih wewangian tanpa merasa harus mengikuti kategori tertentu. Blackstag sendiri menghadirkan enam varian parfum dengan karakter aroma yang berbeda.

Maison Al Oud menawarkan perpaduan oud yang lebih lembut dibanding karakter khas Timur Tengah, dipadukan dengan saffron, vanila, dan madu. Nightfall mengusung nuansa citrus, green, serta jasmine tea yang cocok digunakan pada siang hari atau aktivitas luar ruangan.

Sementara Bright menghadirkan aroma gourmand melalui kombinasi vanila, susu, karamel, dan sentuhan pisang yang menghasilkan kesan hangat sekaligus unik. Selain ketiga varian tersebut, Rain Noir juga menjadi salah satu aroma yang banyak menarik perhatian.

Parfum ini menghadirkan nuansa tanah basah, dedaunan, dan bebatuan setelah hujan sehingga memberikan kesan earthy yang berbeda dibanding aroma populer di pasaran. Karakter seperti itu menunjukkan bahwa konsumen kini semakin tertarik mengeksplorasi aroma yang lebih personal daripada sekadar mengikuti tren.

Menekankan Karakter Aroma dan Waktu Penggunaan

Konsep genderless juga tercermin dalam cara brand parfum dari Bandung itu memperkenalkan produknya pada konsumen. Alih-alih menyebut sebuah parfum cocok untuk pria atau perempuan, tim lebih menekankan karakter aroma, waktu penggunaan, dan kondisi aktivitas.

Dengan pendekatan tersebut, pembeli dapat memilih parfum berdasarkan kebutuhan, misalnya untuk bekerja di ruangan berpendingin udara, kegiatan luar ruang, atau acara malam hari. Menurut Adhin, komunikasi seperti itu membuat calon pembeli lebih mudah membayangkan pengalaman menggunakan parfum.

Perkembangan tren parfum genderless memperlihatkan bahwa industri wewangian bergerak menuju pendekatan yang lebih inklusif. Konsumen tidak lagi membeli parfum demi memenuhi ekspektasi tentang aroma laki-laki atau perempuan, melainkan mencari wewangian yang mampu merepresentasikan karakter diri.

Pergeseran tersebut membuka peluang lebih besar bagi merek lokal untuk menghadirkan inovasi yang menonjolkan kualitas aroma, kreativitas, dan pengalaman personal tanpa harus terikat pada label gender.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |