Nasi Padang Legendaris di Johor Bahru Malaysia yang Tak Pernah Sepi Pengunjung

6 hours ago 4

Liputan6.com, Jakarta - Di tengah ramainya Johor Bahru, Malaysia, ada satu tempat makan yang diam-diam jadi favorit banyak orang, terutama bagi pencinta nasi Padang. Lokasinya cukup strategis: hanya sekitar 10 menit dari KSL City Mall dan kurang dari 20 menit dari Woodlands Checkpoint saat jalanan lancar.

Sekilas, melansir CNA, 10 April 2026, nama Restoran Arnasz Limo R mungkin memunculkan bayangan yang agak berbeda. Namun begitu tiba, suasananya justru terasa sederhana.

Restoran ini menempati sebuah ruko di antara kawasan Larkin dan Taman Abad, tanpa tampilan mencolok. Justru di balik kesederhanaannya, tersimpan daya tarik utama: sajian nasi Padang dengan cita rasa autentik yang konsisten.

Nama "Arnasz" berasal dari gabungan nama para pendirinya, sementara "Limo R" merujuk pada lima anak mereka yang semuanya berawalan huruf R. Kata "limo" berarti lima dalam bahasa Minangkabau.

Sentuhan personal ini terasa selaras dengan konsep makanannya yang hangat dan rumahan. Menariknya, warga setempat lebih akrab menyebutnya sebagai "Balai Bomba Nasi Padang."

Julukan ini muncul karena lokasinya tepat di seberang stasiun pemadam kebakaran Johor, sehingga mudah dikenali. Tak heran tempat ini selalu ramai. Bukan karena tampilannya, melainkan karena rasa yang membuat orang rela datang kembali.

"Restoran ini sudah ada sekitar 40 tahun," ujar jurnalis setempat, David Ngiau. "Kini dikelola oleh generasi kedua, Bapak Wan, yang merupakan putra dari pendiri asli asal Padang. Jadi, cita rasanya benar-benar autentik."

Warisan Rasa Autentik dari Generasi ke Generasi

Suasana kekeluargaan jadi salah satu daya tarik utama nasi Padang di tempat ini. Cita rasanya terasa hangat dan autentik, seperti masakan rumahan yang membekas.

"Setiap kali orangtua saya datang dari Singapura, ibu saya selalu bilang, 'Kita harus ke Arnasz Limo R.' Variasi menunya juga luar biasa banyak," ujarnya.

Pilihan hidangannya memang melimpah—lebih dari 50 menu tersaji, belum termasuk aneka kudapan dari pojok roti canai. Namun, pengalaman memilih makanan di sini sedikit berbeda.

Tidak ada sistem tunjuk-pilih seperti di tempat lain. Pengunjung justru dipersilakan mengambil sendiri hidangan dari balik etalase.

Konsep swalayan ini umum di Johor Bahru dan menciptakan suasana yang lebih santai. Dengan sistem berbasis kepercayaan, pengunjung bebas memilih, sementara pihak restoran mencatat dan menentukan harga di akhir.

Sistem Swalayan yang Hangat dan Penuh Kepercayaan

Lebih dari sekadar makan, pengalaman di sini terasa seperti interaksi yang dilandasi kepercayaan dan kehangatan. Di tengah budaya serba cepat, cara bersantap seperti ini justru menghadirkan nuansa yang semakin langka.

Menu yang ditawarkan pun selalu berubah, mengikuti bahan segar dan kreativitas dapur. Pilihannya beragam, dari ayam berempah, omelet lembut, hingga daging sapi berkuah dan kari kambing cincang yang kaya rasa.

Hidangan lautnya tidak kalah menggoda—mulai dari asam pedas ikan pari, cumi berbumbu, hingga ikan goreng dengan rempah atau siraman kecap manis, lengkap dengan jeruk nipis dan cabai.

Bagi pencinta jeroan, tersedia pilihan, seperti paru goreng bersambal, tumis jantung ayam, serta gulai tunjang yang kaya tekstur dan cita rasa.

Warisan Kuliner Legendaris yang Bertahan

Tidak hanya di Malaysia, warung nasi padang juga bisa ditemukan di Singapura. Di kawasan Kampong Glam, misalnya, terdapat Rumah Makan Minang yang telah berdiri sejak 1954 dan konsisten menjaga cita rasa autentik Minangkabau.

Dengan lebih dari 40 jenis hidangan, tempat ini menjadi destinasi favorit warga lokal sekaligus wisatawan. Pemiliknya, Zulbaidah Binte Marlian, menyebut variasi lauk yang disajikan bisa mencapai 40 hingga 50 pilihan.

Mulai dari sambal lada hijau, ikan bakar, hingga ayam bakar Padang, semuanya hadir dengan rasa khas. Rendang menjadi menu paling populer yang selalu dicari pelanggan.

Harga yang ditawarkan pun cukup beragam, dari sekitar Rp 17.000 hingga Rp 61.000, tergantung jenis hidangan. Kini, usaha ini diteruskan generasi ketiga, Hazmi, yang melanjutkan warisan sang nenek—perantau asal Padang yang memulai usaha dari berjualan di pinggir jalan pada 1950-an.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |