71 Tahun Konferensi Asia Afrika, Menbud: Lindungi Kebudayaan untuk Bangun Perdamaian

9 hours ago 26

Liputan6.com, Jakarta - Tahun ini, Konferensi Asia Afrika genap berusia 71 tahun. Dalam pidato kebudayaan bertajuk Bandung Spirit: Budaya sebagai Jembatan Perdamaian Dunia, Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon menyoroti pentingnya kebudayaan sebagai jembatan perdamaian dunia.

Ia mengingatkan bahwa dunia saat ini tengah dalam fase ketidakpastian global dan erosi kepercayaan antarnegara yang ditandai dengan meningkatnya konflik, rivalitas geopolitik, hingga perlombaan persenjataan. Di tengah kondisi tersebut, ancaman terhadap warisan budaya semakin nyata, mulai dari kerusakan situs bersejarah hingga hilangnya jejak peradaban manusia akibat konflik.

Menanggapi situasi tersebut, Menbud menyatakan bahwa kebudayaan harus ditempatkan sebagai instrumen utama diplomasi untuk memperkuat solidaritas dan persahabatan antar-bangsa, khususnya di kawasan Asia dan Afrika. Dalam dunia yang semakin tanpa batas, kebudayaan memiliki dua peran penting, yakni sebagai benteng penjaga jati diri bangsa dan jembatan untuk membuka dialog internasional.

"Jika kita ingin membangun perdamaian yang berkelanjutan, maka kita harus melindungi kebudayaan," kata Menbud di Bandung pada Minggu, 19 April 2026, dikutip dari Antara.

Menbud menegaskan bahwa Bandung Spirit harus terus dihidupkan sebagai kompas moral dalam membangun tatanan dunia yang lebih adil dan beradab. "Kita harus memastikan bahwa tidak ada perang yang menghapus sejarah suatu bangsa, tidak ada dominasi yang membungkam identitas, dan tidak ada sistem global yang mengabaikan suara mereka yang lemah," imbuh Menbud dalam rilis yang diterima Lifestyle Liputan6.com.

Relevansi Bandung Spirit dari Kondisi Geopolitik Terkini

Fadli juga menyampaikan bahwa Konferensi Asia-Afrika yang telah berlangsung 71 tahun silam merupakan tonggak penting diplomasi dunia. Dari forum tersebut, lahir prinsip-prinsip Dasasila Bandung yang mendorong solidaritas, kerja sama, dan menjadi cikal bakal Gerakan Non-Blok, serta mengawal perjuangan kemerdekaan bangsa-bangsa terjajah.

"Semangat solidaritas, kesetaraan, dan kerja sama antarbangsa harus terus digaungkan sebagai kekuatan moral menghadapi dunia yang semakin terfragmentasi," kata Fadli.

Ia mendorong penguatan kerja sama kebudayaan antarnegara Asia dan Afrika melalui pertukaran pengetahuan, pelestarian warisan budaya, serta solidaritas dalam menghadapi tantangan global.

"Bahwa perbedaan antarbangsa tidak menjadi sumber perpecahan, tetapi menjadi kekuatan untuk membangun dunia yang lebih adil, damai, dan beradab," katanya.

Selain dialog, rangkaian kegiatan Perayaan 71 Tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) juga mencakup peluncuran buku Konferensi Asia Afrika dalam Gambar yang merekam jejak visual peristiwa bersejarah tersebut.

Menbud menjelaskan, "Album ini bercerita tentang bagaimana mulai dari kedatangan para peserta, suasana sidang, bahkan suasana diskusi, sampai dengan acara-acara kebudayaan, yang menggambarkan secara kronologis bagaimana peristiwa KAA terjadi di Bandung."

Usulan Wali Kota Bandung untuk UNESCO

Terpisah, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan melontarkan usulan, mewakili Pemerintah Kota Bandung, agar kawasan Simpang Lima Kota Bandung menjadi Warisan Budaya Dunia UNESCO. Kawasan itu meliputi sepanjang Jalan Asia Afrika hingga Otista karena keberadaannya lekat dengan nilai universal Bandung Spirit.

"Hal ini dilakukan untuk mempertahankan identitas visual serta sejarah yang melekat pada Kota Bandung," kata Farhan.

Di kawasan tersebut juga berdiri Museum Konferensi Asia Afrika, lokasi penyelenggaraan konferensi pada 18--24 April 1955. Museum yang berpredikat tipe A oleh Kementerian Kebudayaan itu menyimpan berbagai benda koleksi yang berkaitan dengan peristiwa bersejarah tersebut, termasuk Kamera Leica IIIF No. 548711 D.R.P.

Mengutip laman Instagram resmi Museum KAA, kamera yang diproduksi Ernst Leitz Wetzlar di Jerman, pernah digunakan oleh salah satu pewarta foto termuda yang mendokumentasikan pelaksanaan Konferensi Asia Afrika 1955 di Bandung. Saat ini, sejumlah fitur minor sudah tidak berfungsi, serta terdapat goresan dan karat pada bagian logam kamera. Kamera Leica ini berada di dalam Ruang Pameran Tetap Museum KAA.

Seputar Museum KAA

Museum KAA hanya buka empat hari dalam seminggu. Pertama pada Rabu, Kamis, dan Sabtu setiap pukul 09.00--12.00 dan 13.00--15.00 WIB. Sementara, pada Jumat, jam operasional museum lebih pendek, yakni pukul 09.00--11.30 dan 13.30--15.30 WIB. Setiap pengunjung diminta untuk meregistrasi diri di link bit.ly/simkuringmkaa.

Mengutip kanal Regional Liputan6.com, gagasan mengubah Gedung Merdeka menjadi Museum KAA datang dari Prof. Mochtar Kusumaatmadja yang pernah menjabat sebagai Menteri Luar Negeri. Gagasan itu kemudian diwujudkan oleh Joop Ave, sebagai Ketua Harian Panitia Peringatan 25 Tahun Konferensi Asia Afrika dan Direktur Jenderal Protokol dan Konsuler Departemen Luar Negeri.

Ia bekerja sama dengan Departemen Penerangan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Pemerintah Daerah Tingkat I Provinsi Jawa Barat, dan Universitas Padjadjaran. Perencanaan dan pelaksanaan teknisnya dikerjakan oleh PT Decenta, Bandung. Museum KAA diresmikan Presiden Soeharto pada 24 April 1980, sebagai puncak Peringatan 25 Tahun Konferensi Asia Afrika.

Pada 18 Juni 1986, kedudukan Museum Konperensi Asia Afrika dialihkan dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan ke Departemen Luar Negeri di bawah pengawasan Badan Penelitian dan Pengembangan Masalah Luar Negeri. Pada 2003, dilakukan restrukturisasi di tubuh Departemen Luar Negeri dan Museum Konferensi Asia Afrika dialihkan ke Ditjen Informasi, Diplomasi Publik, dan Perjanjian Internasional (sekarang Ditjen Informasi dan Diplomasi Publik).

Saat ini, UPT Museum Konferensi Asia Afrika berada dalam koordinasi Direktorat Diplomasi Publik. Museum ini menjadi museum sejarah bagi politik luar negeri Indonesia.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |