Ibu Orang Utan Birute Mary Galdikas Meninggal, Menhut: Jenazah Akan Dimakamkan di Kalteng

6 hours ago 10

Liputan6.com, Jakarta - Kepergian Dr. Birute Mary Galdikas untuk selama-lamanya meninggalkan duka bagi dunia konservasi orang utan di Indonesia. Sosok perempuan kelahiran Weisbaden, Jerman, 10 Mei 1946 itu sangat berjasa dalam menyelamatkan spesies endemik Kalimantan.

Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni menyampaikan bela sungkawa sedalam-dalamnya atas kepergian Dr. Birute. "Indonesia kehilangan salah seorang putra terbaik yang bekerja keras dalam senyap selama puluhan tahun di pedalaman hutan Kalimantan Tengah untuk konservasi habitat orang utan," kata Menhut dalam keterangannya di Jakarta, Rabu, 25 Maret 2026, dilansir dari Antara.

Raja Antoni mengatakan, Birute Galdikas berperan penting dalam pengembangan Taman Nasional Tanjung Puting. Taman nasional itu merupakan salah satu habitat penting orang utan Kalimantan.

"Bila hari ini Anda melihat Taman Nasional Tanjung Puting yang indah, terjaga dengan orangutan yang membuat Anda berdecak kagum, tanpa terlihat Anda akan temukan jejak kaki dan tangan seorang perempuan berhati keras, berkomitmen tinggi, selain rumah tua dari kayu yang beliau dirikan di awal tahun 70-an," ujar dia.

Karena kecintaannya dengan orang utan dan tanah Kalimantan, Birute bahkan berpesan kepada sang putra, Frederick Bohap Galdikas yang akrab disapa Fred, agar disemayamkan di Kalimantan Tengah (Kalteng).

"Bahkan Fred menyampaikan wasiat Bu Birute bahwa bila beliau meninggal nanti, beliau ingin dimakamkan di tanah Dayak, di Kalimantan Tengah, berdekatan dengan pusara suaminya, seorang Dayak yang telah duluan pergi," kata Menhut. Fred lah yang meneruskan perjuangan Birute untuk melestarikan orang utan Kalimantan.

Birute Berjuang Melawan Kanker Paru-paru

Menhut melanjutkan, "Mengingat wasiat tersebut, saya kembali mengonfirmasi kepada Fred apakah jenazah akan dibawa ke Indonesia. Fred membenarkan dan akan mengurus administrasi penerbangan jenazah dari LA ke Jakarta di KJRI LA."

Dr. Birute yang dijuluki sebagai ibu orang utan Kalimantan meninggal dunia pada Selasa, 24 Maret 2026, di Los Angeles, California. Ia mengembuskan napas terakhirnya hanya tujuh minggu sebelum genap berusia 80 tahun, setelah melawan kanker paru-paru.

Dalam siaran pers resmi yang dirilis Orangutan Foundation International (OFI), dikutip Kamis (26/3/2026), kepergian Dr. Birute digambarkan menandai 'berakhirya era ikon konservasi legendaris'. Ia adalah satu-satunya yang masih hidup dari kelompok Trimates atau Leakey's Angels, sekelompok wanita peneliti perintis primata, termasuk Dr. Jane Goodall dan Dr. Dian Fossey, yang masing-masing mempelajari simpanse dan gorila.

Ketiganya merupakan anak bimbingan ahlo paleoantropologi terkenal Dr. Louis Leakey. Mereka dianggap merevolusi pemahaman umat manusia tentang kerabat terdekat kita yang masih hidup di kerajaan hewan, dan 'pada gilirannya tentang diri kita sendiri'.

Temuan-temuan Birute Mary Galdikas

Dr. Birute memulai studi longitudinalnya tentang orang utan Kalimantan pada 1971 di Camp Leakey, yang ia namai untuk menghormati mentornya, di tempat yang sekarang menjadi Taman Nasional Tanjung Puting di Kalimantan Tengah. Penelitian perilaku dan ekologisnya merupakan studi yang dipimpin secara individual terpanjang pada satu spesies dalam sejarah.

Pengabdian Dr. Birute pada orang utan tak main-main. Ia tak segan berjalan kaki menembus rawa setinggi pinggang dari sebelum fajar hingga setelah gelap untuk mengamati individu orang utan dalam empat tahun pertamanya di Camp Leakey.

Penemuan-penemuan awalnya, termasuk mendokumentasikan beragam buah dan tumbuhan yang dimakan orang utan liar, mengamati interval kelahiran terpanjang yang pernah tercatat, dan menjelaskan perilaku sosial serta pola aktivitas harian, membentuk dasar pemahaman dunia tentang orangutan dan tempat unik mereka dalam pohon kehidupan.

Dedikasi Tanpa Batas

Atas dedikasinya, Dr. Birute segera menjadi ahli de facto dan mitra tepercaya bagi pemerintah Indonesia dengan mendirikan upaya rehabilitasi orang utan skala besar dan jangka panjang pertama di Indonesia. Komitmen penuhnya untuk merawat orang utan yatim piatu yang seringkali trauma dan dianiaya yang telah ditahan di penangkaran memberi mereka kesempatan kedua untuk hidup di alam liar.

Hubungan intim ini memicu misi spiritual Dr. Galdikas untuk melindungi keberadaan primordial orangutan di alam liar. Liputan6.com berkesempatan melihat interaksi intim Dr. Birute saat menyambangi Tanjung Harapan di Kalimantan Tengah, pada September 2019.

Ada ketentuan bahwa setiap pengunjung wajib menjaga jarak dari orang utan liar minimal lima meter. Tapi, Dr. Birute ditemani rekannya duduk santai memandangi 'anak-anaknya' di bangku yang berjarak sekitar satu meter. Saat itu, ada induk orang utan dan bayinya serta orang utan jantan dewasa sedang menikmati sesi makan dari atas panggung.

Para individu orang utan itu tak merasa terganggu, apalagi terancam dengan kehadiran manusia tersebut. Sesekali terdengar Dr. Birute bersuara, mencoba berkomunikasi dengan orang utan di hadapannya yang direspons dengan santai.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |