Gaya Nostalgia Katy Perry di Konser Amal 2026, Kenakan Outfit Ikonis Era 2009 demi Aksi Sosial

10 hours ago 11

Liputan6.com, Jakarta - Di tengah tren fashion berkelanjutan yang semakin mendapat perhatian global, Katy Perry menghadirkan cara unik untuk memadukan nostalgia, mode, dan aksi sosial. Penyanyi berusia 41 tahun tersebut memilih mengenakan kembali sejumlah kostum panggung ikonis dari era awal kariernya dalam rangkaian konser amal terbaru yang digelar sepanjang tur musim panas 2026.

Langkah Katy Perry ini bukan sekadar menghadirkan nostalgia bagi para penggemar. Pelantun "Roar" tersebut sekaligus menunjukkan bahwa praktik fashion berkelanjutan juga bisa diterapkan di industri hiburan, termasuk dengan memperpanjang usia pakai busana panggung yang selama ini identik dengan budaya sekali pakai.

Melalui akun Instagram pribadinya, Katy Perry membagikan momen saat tampil di Cardiff Castle, Wales, pada 30 Juni 2026 dengan mengenakan kembali salah satu kostum panggung ikonisnya dari tahun 2009. Busana tersebut berupa set dua potong bermotif polkadot merah-putih yang terdiri dari bra top dan rok mini, yang sebelumnya pernah ia kenakan saat tampil di Capital Summertime Ball pada 7 Juli 2009.

Dalam unggahan tersebut, Katy juga memperlihatkan perbandingan penampilannya mengenakan outfit yang sama lebih dari 17 tahun lalu dan saat ini. Hasilnya pun sukses memancing nostalgia penggemar yang telah mengikuti perjalanan kariernya sejak era debut.

Rewear Kostum Konser Lawas

Namun, di balik penampilan nostalgia tersebut, tersimpan misi yang lebih besar. Katy Perry diketahui menggelar program lelang dan sweepstakes selama 21 hari yang menghadirkan berbagai kostum arsip miliknya. Seluruh hasil donasi akan disalurkan kepada Firework Foundation, yayasan yang ia dirikan bersama sang kakak, Angela Lerche, pada 2018 untuk mendukung pendidikan seni bagi anak-anak dari komunitas kurang terlayani.

Selain busana polkadot yang diperkirakan bernilai sekitar 1.000 dolar AS, beberapa kostum lain dari era tur debut "Hello Katy Tour" tahun 2009 juga ikut dilelang. Katy bahkan kembali mengenakan busana-busana tersebut dalam sejumlah penampilannya di Dublin, Lisbon, hingga Santiago de Compostela sebelum akhirnya dilepas untuk kegiatan amal.

Pilihan Katy Perry untuk mengenakan ulang kostum panggung lawasnya sejalan dengan meningkatnya kesadaran akan praktik circular fashion di industri mode. Dalam beberapa tahun terakhir, konsep rewear atau penggunaan ulang pakaian telah menjadi salah satu langkah penting untuk mengurangi limbah tekstil yang terus meningkat secara global.

Industri fashion sendiri merupakan salah satu penyumbang emisi karbon terbesar di dunia. Karena itu, penggunaan kembali busana yang sudah ada, terutama untuk acara publik berskala besar, dinilai sebagai salah satu cara efektif untuk memperpanjang siklus hidup produk sekaligus mengurangi kebutuhan produksi baru.

Misi Sosial Katy Perry

Bagi Katy Perry, aksi ini juga memiliki makna personal. Dalam wawancara sebelumnya, ia pernah mengungkapkan bahwa masa kecilnya tidak dihabiskan dalam kemewahan. Ia dan keluarganya pernah bergantung pada bantuan pangan, bank makanan, hingga mencari penghasilan tambahan dengan tampil di jalanan.

"Latar belakang kami bukan berasal dari keluarga yang memiliki banyak akses. Semua yang kami capai adalah hasil kerja keras," ungkap Angela Lerche, Presiden Firework Foundation.

Melalui Firework Foundation, Katy Perry telah membantu lebih dari 400 siswa sekolah menengah melalui program Camp Firework yang menghadirkan kelas penulisan lagu, koreografi, hingga desain kreatif.

Menariknya, meski tengah bernostalgia dengan kostum lawasnya, Katy Perry tetap menunjukkan sisi fashion-forward. Pada pembukaan FIFA World Cup di Los Angeles pada 12 Juni lalu, ia tampil glamor mengenakan gaun perak berumbai rancangan Stella McCartney koleksi Fall/Winter 2026.

Di tengah gemerlap industri hiburan yang serba baru dan cepat berganti, keputusan Katy Perry untuk mengenakan kembali busana panggung dari masa lalunya menjadi pengingat bahwa fashion terbaik terkadang bukanlah yang terbaru, melainkan yang memiliki cerita, kenangan, dan tujuan yang lebih besar.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |