Akses Air Bersih Jadi Tantangan, Penyakit Kulit dan Diare Banyak Dialami Warga Baduy

1 week ago 22

Liputan6.com, Lebak - Keterbatasan akses air bersih dan sanitasi masih menjadi tantangan bagi masyarakat Baduy, Banten. Kondisi ini berdampak langsung pada kesehatan warga, dengan penyakit kulit dan gangguan pencernaan seperti diare menjadi keluhan yang paling banyak ditemukan di sana.

“Kalau saya tadi tanya-tanya, yang sebagian besar itu gatal, sama pencernaan seperti mencret atau diare,” kata Sekretaris Jenderal Kemenkes, Kunta Wibawa Dasa Nugraha saat ke wilayah Baduy, Rabu (31/12/2025).

Untuk mengatasi keluhan tersebut, Kemenkes mengirimkan obat-obatan dasar yang umum dibutuhkan masyarakat Baduy. Mulai dari obat gatal, obat sakit perut, serta obat cacing, sesuai dengan kondisi kesehatan warga.

“Biasanya obat-obatan yang sederhana, seperti untuk panas, sakit perut, gatal-gatal, kudis,” kata Kunta mengutip keterangan Kemenkes.

Selain pengobatan, edukasi kesehatan kepada masyarakat, khususnya terkait penerapan perilaku hidup bersih dan sehat juga jadi aspek penting. Edukasi tersebut menekankan pentingnya kebiasaan mencuci tangan serta pengolahan makanan dan minuman yang aman.

“Upaya-upaya sederhana ini penting supaya mereka mendapatkan makanan dan minuman yang lebih bersih,” tuturnya.

Siapkan Antibisa Atasi Gigitan Ular

Sebagian besar warga Baduy bekerja sebagai petani maka rentan digigit ular. Maka Kemenkes juga menyiapkan antibisa ular atau antivenom yang ditempatkan di puskesmas rujukan yang memiliki tenaga kesehatan dengan kompetensi khusus dalam penanganan kasus gigitan ular. 

“Kalau anti bisa kan tidak bisa sembarangan ya. Itu harus dicek dengan cukup. Antibisa sudah tersedia di puskesmas, tapi memang tidak banyak,” jelasnya.

Apabila terjadi kasus gigitan ular, Kunta menyebut penanganan awal dapat dilakukan untuk mencegah penyebaran racun sebelum pasien dirujuk ke fasilitas kesehatan rujukan. Puskesmas akan melakukan koordinasi untuk memastikan penanganan lanjutan dapat segera diberikan.

“Minimal diikat dulu supaya tidak menyebar. Nanti puskesmas akan datang memberikan penanganan,” katanya.

Kunta mengakui jarak puskesmas rujukan yang menyediakan antibisa dari wilayah Baduy mencapai sekitar satu setengah jam perjalanan. Meski demikian, Kemenkes memastikan koordinasi tetap berjalan agar penanganan dapat dilakukan secepat mungkin.

Antibisa Memang Kebutuhan Warga Baduy

Masyarakat Baduy menilai ketersediaan antibisa masih menjadi kebutuhan penting. Narja yang merupakan warga Desa Cihuni, Baduy Luar menyampaikan bahwa antibisa ular merupakan salah satu kebutuhan utama masyarakat, mengingat tingginya risiko gigitan saat bekerja di ladang.

Menurutnya, antibisa tidak diminta untuk disediakan secara berlebihan, melainkan sebagai langkah antisipasi dalam kondisi darurat. Ia juga menyebut keterbatasan obat tersebut kerap menjadi tantangan bagi tenaga kesehatan di lapangan.

“Bukan nyediain, tapi buat jaga antisipasi saja. Masalah obat bisa itu, Pak Kapus (Kepala Puskesmas) juga sering nangis, soalnya susah, nggak ada,” tuturnya.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |