Liputan6.com, Jakarta - Kuliner Indonesia dikenal akan kekayaan rasa dan rempahnya yang memukau dunia. Namun, di balik keunikan tersebut, tersimpan jejak sejarah panjang yang membentuk cita rasa khas Nusantara, salah satunya adalah pengaruh kuliner Portugis yang melahirkan makanan Indonesia pengaruh kuliner Portugis.
Berbagai hidangan tradisional yang kini menjadi ikon kuliner Indonesia ternyata memiliki akar sejarah yang terhubung dengan kebiasaan makan bangsa Portugis. Dari Maluku hingga Jawa, jejak pengaruh ini dapat ditemukan dalam berbagai sajian, baik makanan utama, kudapan, hingga penganan manis.
Artikel Liputan6.com, Senin (25/5/2026), ini akan mengupas berbagai makanan Indonesia pengaruh kuliner Portugis yang mungkin belum banyak diketahui. Mari kita telusuri bagaimana perpaduan budaya ini melahirkan aneka hidangan lezat yang terus dinikmati hingga kini.
1. Gado-gado
Gado-gado, hidangan yang sering disebut sebagai salad khas Indonesia, ternyata memiliki kaitan erat dengan budaya kuliner Portugis. Nama 'gado-gado' sendiri diyakini berasal dari bahasa Portugis yang berarti 'campur-campur'. Hal ini menunjukkan adanya adopsi linguistik yang seiring dengan akulturasi kuliner.
Bangsa Portugis memperkenalkan konsep salad dengan dressing atau saus, sebuah ide yang kemudian diadaptasi di Nusantara. Adaptasi ini menghasilkan gado-gado yang kita kenal sekarang, dengan sayuran rebus yang disiram saus kacang yang kaya rasa. Konsep penyajian sayuran segar dengan saus adalah inti dari pengaruh tersebut.
Lebih lanjut, kacang tanah, bahan utama dalam saus gado-gado, juga diperkenalkan oleh pedagang Portugis dan Spanyol ke Indonesia pada abad ke-16. Kacang yang berasal dari Brasil ini menjadi elemen penting dalam banyak masakan Indonesia, termasuk gado-gado, berkat jalur perdagangan yang dibawa oleh bangsa Eropa.
2. Olahan Ikan (Maluku)
Di Maluku, jejak kuliner Portugis sangat terasa dalam berbagai olahan ikan. Salah satu contohnya adalah hidangan ikan yang dimasak dengan campuran jeruk, yang memiliki kemiripan dengan makanan Portugis bernama petisie. Teknik ini memberikan cita rasa segar dan asam yang khas pada masakan ikan.
Beberapa hidangan ikan berkuah asam di Maluku juga dipercaya mendapat pengaruh kuat dari teknik memasak Portugis. Bangsa Portugis dikenal gemar menggunakan cuka, jeruk, dan rempah-rempah untuk mengolah hidangan laut. Kebiasaan ini kemudian diadopsi dan diintegrasikan ke dalam masakan lokal Maluku, menciptakan kekayaan rasa yang unik.
Penggunaan bumbu asam dan rempah dalam pengolahan ikan di Maluku bukan hanya sekadar kebetulan, melainkan warisan dari keahlian kuliner Portugis. Akulturasi ini menghasilkan hidangan laut yang tidak hanya lezat tetapi juga mencerminkan perpaduan budaya yang kaya. Ini menjadi bukti nyata bagaimana makanan Indonesia pengaruh kuliner Portugis sangat terasa di wilayah kepulauan.
3. Acar
Proses pengawetan makanan dengan membuat acar, yang melibatkan penggunaan larutan cuka, juga merupakan salah satu jejak pengaruh Portugis yang masih lestari hingga kini. Teknik ini diperkenalkan oleh bangsa Portugis sebagai metode untuk menjaga kualitas bahan makanan agar tahan lebih lama.
Acar menjadi populer di Indonesia dan diadaptasi dengan berbagai jenis sayuran serta bumbu lokal. Meskipun bahan dan rasanya telah disesuaikan dengan selera Nusantara, esensi dari teknik pengawetan menggunakan cuka tetap dipertahankan. Ini menunjukkan bagaimana pengaruh asing dapat berpadu harmonis dengan tradisi kuliner setempat.
Kehadiran acar dalam hidangan Indonesia, baik sebagai pelengkap maupun hidangan pembuka, adalah warisan tak langsung dari bangsa Portugis. Metode pengolahan ini memperkaya variasi makanan Indonesia dan menjadi bagian tak terpisahkan dari khazanah kuliner tradisional. Pengaruh ini menunjukkan bagaimana makanan Indonesia pengaruh kuliner Portugis dapat ditemukan dalam teknik dasar pengolahan.
4. Kue Bolu
Kue bolu, salah satu penganan manis yang sangat digemari di Indonesia, memiliki nama yang berasal dari kata Portugis 'bolo', yang berarti kue. Penamaan ini menjadi indikasi kuat adanya pengaruh linguistik dan kuliner dari bangsa Portugis dalam sejarah pembuatan kue di Nusantara.
Teknik membuat sponge cake dengan menggunakan telur dan mentega secara masif mulai dikenal oleh masyarakat lokal setelah masuknya pengaruh Eropa ke Indonesia. Sebelum itu, teknik pembuatan kue mungkin lebih sederhana, dan kedatangan Portugis membawa inovasi dalam metode dan bahan baku.
Variasi kue bolu di Indonesia sangat beragam, namun dasar pembuatannya yang mengandalkan telur dan mentega sebagai pengembang utama adalah warisan dari tradisi kue Eropa. Ini menunjukkan bagaimana makanan Indonesia pengaruh kuliner Portugis telah memperkaya dunia patiseri di tanah air.
5. Pastel, Panada, dan Risoles
Kudapan renyah seperti pastel, panada, dan risoles, yang kini menjadi camilan favorit banyak orang, konon mendapat sentuhan dari kuliner Portugis. Bangsa Portugis membawa tradisi pastry dan gorengan isi ke Nusantara melalui jalur perdagangan dan kolonialisme.
Pastel, dengan isian sayur, telur, atau daging, memiliki kemiripan dengan pastel khas Portugis. Bentuk dan konsep isiannya menunjukkan adanya adaptasi dari hidangan Eropa. Panada, yang populer di Manado, juga merupakan adaptasi dari empanada Portugis, seringkali dengan isian ikan.
Demikian pula dengan risoles, meskipun sering dikaitkan dengan Belanda, akar-akar hidangan gorengan berisi ini juga dapat ditelusuri kembali ke tradisi kuliner Portugis. Kehadiran berbagai kudapan ini memperkaya variasi makanan Indonesia dan menjadi bukti nyata akulturasi kuliner yang terjadi.
6. Srikaya
Olahan srikaya yang manis, seperti selai atau isian kue, juga mendapat pengaruh dari kuliner Portugis. Buah srikaya sendiri merupakan salah satu jenis buah yang dibawa oleh bangsa Portugis dari Benua Amerika ke Nusantara. Mereka memperkenalkan tanaman ini ke berbagai wilayah di Indonesia.
Pengolahan buah srikaya menjadi penganan manis kemudian berkembang di Indonesia, seringkali dengan sentuhan lokal. Namun, keberadaan buah ini sebagai bahan dasar dan cara pengolahannya menjadi manisan adalah warisan dari interaksi dengan Portugis. Ini menunjukkan bagaimana bahan makanan baru memperkaya resep tradisional.
Kehadiran srikaya dalam berbagai hidangan penutup atau kudapan manis di Indonesia adalah salah satu contoh bagaimana makanan Indonesia pengaruh kuliner Portugis tidak hanya mencakup teknik, tetapi juga bahan baku. Buah ini menjadi bagian tak terpisahkan dari keanekaragaman hayati dan kuliner Nusantara.
7. Klappertaart (Manado)
Klappertaart, penganan khas Manado yang terbuat dari kelapa, susu, dan kismis, seringkali dikaitkan dengan pengaruh Belanda. Namun, sebenarnya, kuliner ini juga dipengaruhi oleh budaya kuliner Portugis yang lebih dulu hadir di Sulawesi Utara. Portugis membawa tradisi kue panggang dan penggunaan bahan-bahan tertentu.
Meskipun Belanda kemudian mempopulerkannya, fondasi resep dan teknik pembuatan klappertaart memiliki akar dari tradisi kuliner Eropa yang dibawa oleh Portugis. Penggunaan kelapa sebagai bahan utama adalah adaptasi lokal yang brilian, memadukan kekayaan alam Nusantara dengan teknik Eropa.
Klappertaart adalah contoh menarik dari akulturasi kuliner yang berlapis-lapis, di mana pengaruh Portugis menjadi lapisan awal sebelum kemudian disempurnakan oleh Belanda. Ini menunjukkan fleksibilitas dan kreativitas masyarakat lokal dalam mengadopsi dan memodifikasi resep asing.
8. Sup Kacang Merah (Brenebon) Manado
Sup kacang merah khas Manado, atau yang dikenal dengan nama Brenebon, merupakan hidangan yang berkembang dari tradisi sup Eropa. Awalnya, sup ini diperkenalkan oleh bangsa Portugis, kemudian disempurnakan dan dipopulerkan lebih lanjut oleh Belanda.
Konsep sup dengan kaldu kental dan isian kacang-kacangan adalah ciri khas masakan Eropa yang dibawa ke Nusantara. Masyarakat Manado kemudian mengadaptasinya dengan bumbu dan rempah lokal, menciptakan Brenebon yang kaya rasa dan cocok dengan lidah Indonesia.
Brenebon menjadi bukti bagaimana makanan Indonesia pengaruh kuliner Portugis memberikan dasar bagi kreasi hidangan baru. Perpaduan antara tradisi sup Eropa dan kekayaan rempah lokal menghasilkan hidangan yang unik dan sangat digemari di Manado.
9. Roti Pao atau Roti Paung (Flores dan Maluku)
Di Flores dan Maluku, terdapat roti tradisional yang dikenal dengan nama Pao atau Roti Paung. Nama 'pao' sendiri berasal dari kata Portugis 'pao', yang secara harfiah berarti roti. Ini adalah salah satu contoh langsung dari pengaruh linguistik yang dibawa oleh Portugis.
Roti ini dipercaya mendapat pengaruh dari bangsa Portugis yang membawa tradisi pembuatan roti gandum ke Nusantara. Sebelum kedatangan Eropa, makanan pokok masyarakat Indonesia umumnya adalah nasi, sehingga konsep roti merupakan hal baru yang kemudian diadopsi.
Meskipun telah mengalami adaptasi dengan bahan dan cara pembuatan lokal, esensi roti sebagai makanan pokok atau camilan tetap dipertahankan. Roti Pao atau Roti Paung menjadi simbol akulturasi kuliner yang menggabungkan tradisi Eropa dengan kekayaan lokal.
10. Sop Saudara (Makassar)
Sop Saudara, kuliner khas Makassar yang terkenal, memiliki unsur sup daging ala Eropa yang dipadukan dengan rempah lokal. Sejumlah sejarawan kuliner menduga kuat adanya pengaruh Portugis dalam penggunaan jeroan dan kuah kaya rempah pada hidangan ini.
Tradisi mengolah daging dan jeroan menjadi sup kental dengan bumbu yang kuat adalah ciri khas masakan Eropa yang dibawa oleh Portugis. Masyarakat Makassar kemudian mengadaptasinya dengan rempah-rempah khas Sulawesi, menciptakan cita rasa yang unik dan mendalam.
Perpaduan antara teknik sup Eropa dan kekayaan rempah Nusantara menjadikan Sop Saudara sebagai hidangan yang istimewa. Ini adalah salah satu contoh bagaimana makanan Indonesia pengaruh kuliner Portugis dapat ditemukan dalam hidangan berkuah yang kompleks.
11. Dodol Kenari (Maluku)
Di Maluku, terdapat hidangan manis bernama dodol kenari. Penganan ini menunjukkan kemiripan dengan manisan Portugis, terutama dalam penggunaan kacang kenari, gula, dan teknik pengadukan yang lama. Kacang kenari sendiri banyak tumbuh di wilayah Maluku, sehingga menjadi bahan yang mudah diakses.
Teknik pengolahan manisan dengan pengadukan yang intens dan dalam waktu lama adalah ciri khas dari beberapa penganan manis Eropa. Tradisi ini kemudian diterapkan pada bahan lokal seperti kenari, menghasilkan dodol kenari yang lezat dan bertekstur unik.
Dodol kenari adalah perpaduan sempurna antara kekayaan alam Maluku dan teknik pengolahan yang dibawa oleh Portugis. Ini adalah bukti lain bagaimana makanan Indonesia pengaruh kuliner Portugis telah memperkaya khazanah penganan tradisional di Indonesia.
12. Pindang Serani (Kampung Tugu)
Pindang Serani adalah hidangan ikan pindang yang konon dimasak oleh orang Nasrani keturunan Portugis di Kampung Tugu, Jakarta Utara. Hidangan ini dikenal kaya akan rempah, mencerminkan perpaduan bumbu lokal dengan teknik memasak yang diwarisi dari leluhur Portugis.
Pada masa lalu, masakan ini merupakan hidangan khas yang dimasak oleh komunitas keturunan Portugis di Kampung Tugu. Penggunaan rempah yang melimpah dan cara pengolahan ikan yang spesifik menunjukkan adanya warisan kuliner yang kuat dari nenek moyang mereka.
Pindang Serani bukan hanya sekadar hidangan, tetapi juga simbol dari keberlanjutan budaya dan tradisi kuliner komunitas Portugis di Indonesia. Ini adalah contoh unik bagaimana makanan Indonesia pengaruh kuliner Portugis tetap hidup dalam tradisi lokal.
13. Ketan Unti (Kampung Tugu)
Ketan Unti adalah hidangan ketan putih dengan parutan kelapa dan gula merah, yang merupakan bagian dari tradisi mendoakan orang meninggal di Kampung Tugu. Tradisi ini diajarkan oleh leluhur Portugis kepada keturunan mereka.
Penganan ini memiliki makna spiritual dan budaya yang mendalam bagi komunitas keturunan Portugis di Kampung Tugu. Meskipun bahan-bahannya sangat lokal (ketan, kelapa, gula merah), konteks dan tradisi penyajiannya memiliki akar dari kebiasaan leluhur Portugis.
Ketan Unti adalah representasi dari akulturasi budaya yang tidak hanya terbatas pada rasa, tetapi juga pada praktik sosial dan keagamaan. Ini menunjukkan bagaimana makanan Indonesia pengaruh kuliner Portugis dapat termanifestasi dalam ritual dan tradisi.
14. Kue Lumpur
Kue lumpur diperkirakan mulai dikenal di Jawa dan Nusa Tenggara pada masa awal interaksi dengan pedagang Portugis. Proses pembuatannya yang menggunakan teknik panggang dan cetakan kecil menyerupai kue tart Eropa menjadi penanda kuat adanya pengaruh asing di balik kelezatan kue ini.
Sebelum kedatangan Eropa, teknik memanggang dan penggunaan cetakan kue mungkin belum umum di Nusantara. Portugis membawa inovasi ini, yang kemudian diadaptasi oleh masyarakat lokal dengan bahan-bahan yang tersedia, seperti kentang atau labu kuning, untuk menciptakan kue lumpur.
Kue lumpur adalah salah satu penganan manis yang populer, dan keberadaannya adalah bukti bagaimana makanan Indonesia pengaruh kuliner Portugis telah memperkaya khazanah jajanan pasar. Perpaduan teknik Eropa dan bahan lokal menghasilkan cita rasa yang khas dan disukai banyak orang.
15. Roti Kompiang atau Kompia (Maluku dan Kalimantan)
Roti Kompiang atau Kompia adalah salah satu roti tradisional yang berkembang di wilayah Maluku dan sebagian Kalimantan. Roti ini dipercaya mendapat pengaruh dari Portugis yang membawa roti gandum ke Nusantara.
Ciri khas roti kompiang adalah teksturnya yang padat dan rasanya yang sedikit asin, berbeda dengan roti manis yang lebih umum di beberapa daerah. Ini mencerminkan jenis roti tawar atau roti keras yang mungkin dibawa oleh pelaut Portugis sebagai bekal perjalanan.
Kehadiran roti kompiang menunjukkan adaptasi masyarakat lokal terhadap bahan makanan baru yang dibawa oleh Portugis. Roti ini menjadi bagian dari diet dan tradisi kuliner di beberapa wilayah, membuktikan bagaimana makanan Indonesia pengaruh kuliner Portugis dapat ditemukan dalam hidangan sehari-hari.
Pertanyaan Seputar Makanan Indonesia Pengaruh Kuliner Portugis
Apa saja makanan Indonesia yang dipengaruhi kuliner Portugis?
Beberapa makanan Indonesia yang dipengaruhi kuliner Portugis antara lain gado-gado, olahan ikan di Maluku, acar, kue bolu, pastel, panada, risoles, srikaya, klappertaart, sup kacang merah (Brenebon), roti pao, sop saudara, dodol kenari, pindang serani, ketan unti, dan kue lumpur.
Bagaimana Portugis memengaruhi kuliner Indonesia?
Portugis memengaruhi kuliner Indonesia melalui pengenalan bahan pangan baru dari Benua Amerika seperti jagung, ubi kayu, cabai, dan kacang tanah. Mereka juga membawa teknik pengolahan makanan seperti pembuatan acar dan teknik memanggang kue, serta memengaruhi pola konsumsi dan penamaan beberapa bahan makanan.
Apakah ada bahan makanan yang namanya berasal dari bahasa Portugis?
Ya, beberapa nama bahan makanan dalam bahasa Indonesia merupakan serapan dari bahasa Portugis. Contohnya adalah 'keju' dari 'queijo', 'kerapu' dari 'carapau', 'tepung terigu' dari 'terigo', dan 'kaldu' dari 'caldo'.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4935039/original/020594500_1725330687-000_34HX2FX.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5444566/original/076011800_1765781538-Cuci_Berulang_di_Air_Mengalir__Fokus_pada_Rongga_Perut.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6187862/original/072095400_1779067929-Gemini_Generated_Image_m29nqkm29nqkm29n.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4029133/original/002711300_1653100051-000_32AH9GB.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5071379/original/061426200_1735539566-1735028600056_resep-setup-roti-tawar.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6925316/original/088183700_1779695764-ChatGPT_Image_May_25__2026__02_54_39_PM.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6928510/original/065297200_1779698790-KAI.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3011384/original/042073100_1577991606-TEH_TALUA-Novia_H__1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6318462/original/024439000_1779193072-tiramisuu.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6918317/original/010870500_1779688840-L1003478-1_copy.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6909736/original/021182300_1779680100-Merebus_Tulang_Iga_Sapi_agar_Empuk_dan_Daging_Mudah_Lepas_tanpa_Presto.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3586787/original/080195300_1632890238-Mangut_Beong_-_Visit_Magelang.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6909298/original/034423100_1779679785-cropped-f3d9516b-eca8-4bb8-9c66-0f803497b1bf.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5555114/original/028791000_1776143182-68114f74-3adb-48b4-ada1-b151b44bfa36.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6805653/original/018395900_1779596910-jang_wonyoung.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5377892/original/039699400_1760166061-Dimsum.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6910653/original/003708200_1779681000-Roti_Tawar_Gulung_Cokelat_di_Teflon.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6908523/original/013763900_1779679025-cropped-510900a3-97db-48ba-9ee7-3451489a4e53.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6909836/original/035509900_1779680478-6793845957007514608.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5631973/original/077498900_1778230832-mie_ayam_malioboro.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5483775/original/060597100_1769403155-victoria_beckham.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5484152/original/054897800_1769414667-Gemini_Generated_Image_px7w5npx7w5npx7w.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5498890/original/093027800_1770725754-image__57_.png)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5485154/original/028256900_1769496101-siti_nadia.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5488195/original/057422900_1769740878-Kelelawar_di_rumah.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5516283/original/012128900_1772274598-WhatsApp_Image_2026-02-27_at_19.33.04.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5518622/original/086723800_1772514079-cropped-4c856ac0-ea24-40bb-a37b-540c0d601eeb.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5486728/original/017225600_1769597871-drw.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5490055/original/041786300_1769987581-Matera_Reside.jpg.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5533834/original/068860100_1773784980-WhatsApp_Image_2026-03-18_at_03.05.55.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5490070/original/049147700_1769994542-AP26032840374760.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5214334/original/000919900_1746760852-Gemini_Generated_Image_mdr774mdr774mdr7.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5494624/original/004797900_1770301548-000_33YZ6V9.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5475653/original/079203500_1768636464-unnamed-24.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4563023/original/075687300_1693830555-carles-rabada-reZbnolscDo-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5354370/original/022354000_1758247499-mj-tangonan-CAUgg2lxRk0-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5500323/original/022128900_1770860747-cumi.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5484492/original/003236400_1769433636-Depositphotos_855662500_L.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4961440/original/032709700_1728222801-fotor-ai-20241006205048.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5485548/original/063674100_1769511840-closeup-shot-sleeping-bat-wrapped-its-wings.jpg)