Tantrum Anak Tak Kunjung Hilang di Usia 4 Tahun, Orang Tua Harus Waspada?

2 weeks ago 27

Liputan6.com, Hong Kong - Tantrum kerap dianggap sebagai bagian wajar dari tumbuh kembang anak, terutama di usia balita. Namun, kondisi ini perlu mendapat perhatian lebih dari orang tua jika tantrum anak tak kunjung hilang hingga usia 4 tahun.

Menurut Praktisi Psikologi Anak Usia Dini, Aninda, S.Psi, M.Psi.T, tantrum memang masih bisa muncul pada anak usia 1 s.d 3 tahun karena kemampuan regulasi emosi dan komunikasi mereka belum berkembang optimal. Namun, secara teori perkembangan, tantrum seharusnya mulai berkurang dan menghilang saat anak memasuki usia 4 tahun.

"Di usia 4 tahun, anak sebenarnya sudah mulai mampu mengomunikasikan apa yang dia rasakan. Jadi, kalau tantrum masih sering muncul dan intens, ini perlu diwaspadai," kata Aninda dalam diskusi Nutrilon Royal dan Indomaret Dukung Stimulasi Anak Jadi Pemenang dalam Winner’s Squad Adventure ke Hong Kong pada Sabtu, 7 Februari 2026.

Memahami Tantrum Sesuai Tahap Usia

Pada anak usia dini, tantrum biasanya muncul sebagai bentuk luapan emosi saat keinginannya tidak terpenuhi atau ketika dia belum mampu mengekspresikan perasaan dengan kata-kata.

Di usia 1 s.d 3 tahun, kata Aninda, anak berada dalam fase eksplorasi dan rasa ingin tahu yang tinggi, tapi belum memahami bahaya dan batasan.

Memasuki usia 3 s.d 5 tahun, kemampuan bahasa dan kognitif anak berkembang pesat. Anak mulai mengenal berbagai emosi, seperti marah, sedih, dan kecewa.

Pada fase ini, tantrum seharusnya semakin jarang karena anak sudah bisa menyampaikan keinginannya secara verbal. "Kalau sampai usia 4 tahun anak masih sering tantrum, itu bisa menjadi sinyal bahwa regulasi emosinya belum berkembang dengan baik," ujar Aninda.

Tanda Tantrum yang Perlu Diwaspadai

Orang tua perlu lebih waspada jika tantrum disertai dengan tanda-tanda lain, seperti sulit fokus, kurangnya rasa ingin tahu, tidak tertarik bermain atau berteman dengan anak seusianya, serta kesulitan mengikuti aturan sederhana.

Selain itu, ketergantungan pada gadget juga menjadi faktor yang patut diperhatikan. Durasi penggunaan yang berlebihan dan konten yang tidak sesuai usia dapat memengaruhi kemampuan anak dalam mengelola emosi.

"Kita perlu cek bukan hanya durasi gadget, tapi juga konten yang dikonsumsi anak. Ini sangat berpengaruh pada perkembangan sosial dan emosionalnya," kata Aninda.

Peran Orang Tua dalam Regulasi Emosi Anak

Tantrum tidak bisa dilepaskan dari peran orang tua dalam mendampingi anak. Respons yang terlalu keras, sering melarang tanpa penjelasan, atau justru terlalu banyak intervensi dapat membuat anak merasa ragu, takut salah, bahkan frustrasi.

Sebaliknya, orang tua dianjurkan untuk membantu anak mengenali emosinya. Mengajak anak berbicara, memberi nama pada perasaan yang ia alami, serta memberikan contoh cara menenangkan diri dapat membantu anak belajar regulasi emosi.

"Yang terpenting adalah konsistensi dan kehadiran orang tua. Anak belajar mengelola emosi dari bagaimana orang dewasa di sekitarnya bereaksi," tambahnya.

Kapan Perlu ke Profesional?

Jika tantrum masih sering terjadi setelah usia 4 tahun, berlangsung lama, atau semakin intens hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, orang tua disarankan untuk berkonsultasi dengan psikolog anak atau tenaga profesional.

Pendampingan sejak dini dapat membantu anak mengembangkan kemampuan komunikasi, sosial, dan emosional dengan lebih optimal. Dengan pemahaman yang tepat, orang tua tidak hanya membantu anak melewati fase tantrum, tetapi juga membangun fondasi karakter dan kesehatan mental anak di masa depan.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |