Sandiaga Uno Gelar Pelatihan, UMKM Tahu Bakso Kini Berkembang

6 hours ago 6

Liputan6.com, Jakarta - Di sebuah sudut permukiman padat di Jatinegara, Jakarta Timur, aroma tahu bakso yang baru matang kini tak hanya menjadi sumber penghasilan bagi Ningsih. Di balik usaha rumahan yang dirintis sejak 10 tahun lalu, perjuangannya kini juga dirasakan warga sekitar.

Perempuan yang dikenal sebagai pemilik usaha Tahu Baso Mama Ulum itu mengaku omzet usahanya kini mencapai sekitar Rp 16 juta per pekan. Angka tersebut meningkat dua kali lipat dibanding sebelumnya yang hanya berkisar Rp 7 juta hingga Rp 8 juta per minggu.

Peningkatan tersebut diraih setelah Ningsih mengikuti program inkubasi dan pendampingan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang diselenggarakan Yayasan Indonesia Setara (YIS).

Banjirnya pesanan setelah mengikuti pelatihan membuat dirinya tidak lagi mampu bekerja seorang diri. Ningsih pun mengajak para tetangganya untuk membantu proses produksi tahu bakso.

"Dulu saya mengerjakan semuanya sendiri. Sekarang karena pesanan semakin banyak, saya mengajak tetangga ikut membuat tahu bakso," ujar Ningsih.

Tak disangka, keterampilan yang mereka pelajari selama membantu produksi justru menjadi bekal untuk membuka usaha sendiri.

Kini, beberapa tetangganya telah menerima pesanan tahu bakso secara mandiri, sehingga memiliki tambahan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

"Dampaknya bukan hanya dirasakan saya dan keluarga. Banyak tetangga yang sekarang bisa berjualan tahu bakso dan mendapatkan tambahan penghasilan setiap hari," kata Ningsih.

Bangun Usaha Tidak Instan

Perjalanan Ningsih membangun usaha tidak instan. Sebelum memproduksi tahu bakso, dia sebelumnya berjualan jamu keliling menggunakan sepeda.

Ketika anaknya mulai bersekolah dan membutuhkan perhatian lebih di rumah, Ningsih memutuskan berhenti berjualan jamu. Berbekal pengalaman sang suami yang pernah berjualan bakso keliling, ia mulai memproduksi tahu bakso dari rumah.

Pada awalnya, produk tersebut dipasarkan secara sederhana melalui teman-teman yang menawarkan dagangannya ke kantin sekolah, perkantoran hingga pedagang sayur. Perlahan, produk tahu bakso beku berbahan daging ayam dan sapi itu mulai dikenal masyarakat.

Perubahan besar terjadi setelah Ningsih bertemu dengan Coach Ida Noor Meida, Mitra Inkubator Yayasan Indonesia Setara dalam kegiatan bazar dan coaching clinic di Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur pada 2018.

Melalui program pendampingan Yayasan Indonesia Setara, ia mengaku mendapatkan banyak pengetahuan baru, mulai dari cara menghitung harga pokok produksi (HPP), strategi pemasaran digital, pemanfaatan media sosial, hingga penggunaan kecerdasan buatan (AI) untuk mendukung promosi usaha.

"Sepuluh tahun lalu saya masih berjualan jamu gendong. Sekarang Alhamdulillah omzet usaha sudah mencapai sekitar Rp 16 juta per minggu dari bakso tahu. Pendampingan ini membuat saya lebih percaya diri memasarkan produk melalui media sosial dan menerapkan ilmu yang saya dapat selama pelatihan," kata Ningsih.

Dukung Peningkatan Kompetensi

Terpisah, Founder YIS Sandiaga Salahuddin Uno mengatakan peningkatan kapasitas pelaku UMKM tidak cukup hanya melalui bantuan permodalan, tetapi juga perlu didukung peningkatan kompetensi dan pendampingan yang berkelanjutan.

"Pendampingan harus menghasilkan dampak yang nyata. Ketika pelaku UMKM memperoleh keterampilan baru, mampu memanfaatkan teknologi digital, dan memperluas pasar, maka usaha mereka akan tumbuh dan manfaatnya bisa dirasakan masyarakat di sekitarnya," kata Sandiaga, Jumat (10/7/2026).

Menurutnya, keberhasilan sebuah UMKM tidak hanya diukur dari kenaikan omzet, tetapi juga dari kemampuannya menciptakan lapangan kerja dan menggerakkan ekonomi masyarakat.

"Keberhasilan sebuah UMKM bukan hanya diukur dari kenaikan omzet, tetapi juga dari kemampuannya menciptakan lapangan kerja, menggerakkan ekonomi lokal, dan menginspirasi pelaku usaha lain untuk berkembang bersama," jelas Sandiaga.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |