Keberhasilan Penanganan Stroke Tak Berhenti pada Penyelamatan Nyawa tapi Juga Fungsi Tubuh

16 hours ago 7

Liputan6.com, Jakarta - Keberhasilan penanganan stroke tidak lagi cukup diukur dari indikator klinis seperti penurunan mortalitas atau keberhasilan terapi akut. Ada tantangan besar yang kerap terabaikan, yakni bagaimana penyintas menjalani kehidupan setelah selamat.

“Stroke bukan sekadar peristiwa biologis yang berhenti pada keberhasilan menyelamatkan nyawa. Ia adalah pengalaman kehidupan yang menuntut pemulihan makna, martabat, dan keberfungsian manusia secara utuh,” kata Guru Besar Tetap dalam Bidang Ilmu Keperawatan Neurologi Fakultas Ilmu Keperawatan (FIK) Universitas Indonesia (UI), Profesor I Made Kariasa mengutip laman UI, Selasa (7/4/2026).

Dia menjelaskan, meningkatnya kasus stroke secara global dan tingginya beban disabilitas jangka panjang menunjukkan bahwa pendekatan life-saving tidak lagi memadai sebagai satu-satunya orientasi layanan kesehatan. Data global memproyeksikan peningkatan jumlah kasus stroke hingga tahun 2030. Sementara, angka kematian memang menurun berkat kemajuan teknologi medis. Namun, kondisi ini justru diiringi dengan meningkatnya jumlah penyintas yang hidup dengan keterbatasan fisik dan sosial.

Di Indonesia, tingginya prevalensi stroke dan faktor risiko berbasis gaya hidup memperkuat urgensi pendekatan yang lebih komprehensif. Dengan prevalensi mencapai 8,3 persen, stroke menjadi salah satu beban utama sistem kesehatan nasional. Faktor risiko seperti hipertensi, diabetes, kurang aktivitas fisik, merokok, dan stres menunjukkan bahwa persoalan stroke tidak hanya bersifat klinis, tetapi juga berkaitan erat dengan perilaku dan determinan sosial kesehatan.

Pemulihan Tak Cukup pada Aspek Fisik

Dalam konteks ini, Prof. Made menekankan bahwa keperawatan neurologi harus bergerak dari pendekatan terfragmentasi menuju pendampingan berkelanjutan. Mulai dari promotif, preventif, kuratif, hingga rehabilitatif. Pergeseran menuju life-meaning menjadi penting agar penyintas tidak hanya bertahan hidup, tetapi mampu menjalani kehidupan yang bermakna, mandiri, dan bermartabat.

Penguatan praktik keperawatan berbasis riset dan inovasi menjadi fondasi perjalanan akademik Prof. Made selama lima tahun terakhir (2020–2025). Penelitiannya mencakup pengembangan intervensi self-management, pencegahan kekambuhan, hingga kajian mendalam tentang stigma internal pada penyintas stroke.

Temuan penting menunjukkan bahwa stigma internal merupakan pengalaman eksistensial yang memengaruhi identitas dan makna hidup penyintas. Hal ini menegaskan bahwa pemulihan tidak cukup berfokus pada aspek fisik, tetapi juga harus menyentuh dimensi psikososial, harga diri, dan rekonstruksi makna hidup.

Sensor Digital Kariasa

Sebagai kontribusi inovatif, Prof. Made mengembangkan Sensor Digital Kariasa (SenDiKa 1.0 & 2.0)—alat non-invasif yang mampu mengukur tekanan darah, gula darah, dan kolesterol secara simultan untuk mendukung deteksi dini dan manajemen mandiri pasien pasca stroke.

Ke depan, pengembangan model keperawatan neurologi berbasis life-meaning yang kontekstual dengan budaya Indonesia menjadi fokus utama roadmap risetnya. Model ini diharapkan mampu mengintegrasikan intervensi medis dengan pemulihan psikososial, serta memperkuat peran keluarga dan komunitas sebagai bagian dari proses rehabilitasi.

Made juga mengajak akademisi, praktisi, dan pembuat kebijakan untuk merefleksikan kembali makna keberhasilan layanan kesehatan. Temuannya menegaskan arah baru keperawatan neurologi: bahwa masa depan layanan kesehatan tidak hanya berbicara tentang memperpanjang hidup, tetapi juga memuliakan kehidupan itu sendiri.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |