Guru Besar FKUI: Campak Berisiko Menyebabkan Gangguan Otak Jangka Panjang

11 hours ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Kasus campak kembali menjadi sorotan setelah terjadi lonjakan di sejumlah wilayah Indonesia pada awal 2026. Penyakit yang selama ini sering dianggap ringan karena identik dengan ruam kulit, ternyata menyimpan risiko serius, termasuk gangguan pada otak dalam jangka panjang.

Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM, Hinky Hindra Irawan Satari, mengingatkan, campak bukan sekadar penyakit infeksi biasa. Tingkat penularannya sangat tinggi dan dapat memicu komplikasi berat, bahkan kematian.

"Campak itu sangat menular, menyebabkan penyakit serius, bahkan bisa menyebabkan kematian. Bukan hanya kepada masyarakat, tapi juga kepada teman sejawat kita," ujar Hinky dalam webinar bertajuk 'Kupas Tuntas Campak: Dari Imunisasi Sampai Komplikasi' pada Rabu, 1 April 2026.

Risiko Serius Campak hingga Gangguan Otak

Salah satu bahaya yang sering tidak disadari adalah dampak jangka panjang campak terhadap otak. Infeksi virus campak dapat menyebabkan komplikasi neurologis, seperti peradangan otak (ensefalitis) hingga kondisi langka namun fatal seperti subacute sclerosing panencephalitis (SSPE).

Kondisi ini bisa muncul bertahun-tahun setelah infeksi awal dan menyebabkan penurunan fungsi otak secara progresif. Artinya, pasien yang tampak sembuh dari campak tetap berisiko mengalami gangguan serius di kemudian hari.

Hal inilah yang membuat para ahli menegaskan bahwa campak tidak boleh dianggap sepele, terutama di tengah menurunnya cakupan imunisasi.

Penurunan Imunisasi Picu Lonjakan Kasus

Direktur Imunisasi Kementerian Kesehatan RI, Indri Yogyaswari, mengungkapkan bahwa peningkatan kasus campak saat ini dipicu oleh kesenjangan cakupan vaksinasi.

"Cakupan imunisasi campak, baik MR1, MR2, maupun BIAS, dari 2024 hingga 2026 menunjukkan tren penurunan," ujarnya.

Penurunan ini menyebabkan terbentuknya kelompok rentan dalam jumlah besar, sehingga virus lebih mudah menyebar dan memicu kejadian luar biasa (KLB).

Orang Dewasa Juga Berisiko Campak

Campak juga tidak hanya menyerang anak-anak. Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM, Iris Rengganis menegaskan bahwa orang dewasa tetap berisiko, terutama jika belum pernah divaksin atau imunitasnya menurun.

"Vaksinasi tetap merupakan pencegahan yang paling efektif dan aman untuk mencegah campak, apalagi dalam kondisi wabah," ujarnya.

Vaksin campak untuk dewasa tersedia dalam bentuk MR atau MMR, yang diberikan dua dosis dengan jarak minimal 28 hari.

Para ahli sepakat bahwa imunisasi merupakan langkah paling efektif untuk mencegah campak dan komplikasinya. Selain itu, deteksi dini dan isolasi pasien juga penting untuk menekan penyebaran virus.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |