Dokter Ungkap HPV pada Pria Kerap Terlambat Dideteksi hingga Stadium Lanjut

10 hours ago 7

Liputan6.com, Jakarta - Pria juga memiliki risiko yang tidak kalah besar terhadap infeksi Human Papilloma Virus (HPV), bahkan kerap terlambat terdeteksi hingga masuk stadium lanjut.

Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin, Dr. dr. Hanny Nilasari, Sp.D.V.E, Subsp. Ven, FINSDV, FAADV mengungkapkan bahwa salah satu tantangan terbesar dalam penanganan HPV pada pria adalah keterlambatan diagnosis.

"Sering kali pasien datang sudah dalam kondisi dengan tanda dan gejala yang berat. Pada tahap ini, dokter pun tidak bisa langsung mengidentifikasi apakah lesi tersebut prakanker atau sudah keganasan, sehingga perlu pemeriksaan berkelanjutan," ujar Hanny.

Menurutnya, kondisi ini terjadi karena infeksi HPV pada pria kerap tidak menimbulkan gejala yang jelas di awal. Akibatnya, banyak yang mengabaikan perubahan kecil pada tubuh, seperti munculnya benjolan kecil di area genital atau mulut.

Padahal, infeksi yang awalnya ringan bisa berkembang menjadi lebih serius, terutama jika dipengaruhi oleh faktor risiko tertentu. "Perkembangan infeksi HPV menjadi lesi yang lebih berat sangat berkaitan dengan imunitas, baik lokal maupun sistemik," tambahnya.

Seiring bertambahnya usia, sistem imun cenderung menurun, sehingga virus lebih mudah bertahan dan menyebabkan perubahan sel.

Selain itu, kebiasaan seperti merokok, konsumsi alkohol, seks oral, memiliki banyak pasangan seksual, hingga hubungan seks sesama jenis juga menjadi faktor risiko yang sering ditemukan pada pasien HPV.

Menariknya, Hanny juga menyoroti bahwa penularan HPV pada pria sering kali terjadi dari pasangan perempuan. "Perempuan lebih sering menginfeksi laki-laki, dengan angka sekitar 12,3 persen. Ini menunjukkan bahwa laki-laki juga membutuhkan proteksi," ujarnya.

Namun, banyak pria yang merasa tidak perlu khawatir karena menganggap infeksi HPV bersifat sementara. Padahal, jika yang menginfeksi adalah tipe risiko tinggi seperti HPV 16 dan 18, virus dapat menjadi persisten.

"Persisten artinya virus tidak hilang dari tubuh, tetapi bertahan di permukaan kulit atau mukosa. Lama-kelamaan, infeksi ini bisa berkembang menjadi lebih berat," kata Hanny.

Kurangnya informasi menjadi salah satu penyebab utama rendahnya kesadaran pria terhadap bahaya HPV. Bahkan, dalam praktiknya, Hanny kerap menemui pasien yang sudah sembuh dari kutil kelamin namun menolak vaksinasi.

"Saya pernah menyarankan vaksinasi kepada pasien laki-laki yang sudah sembuh dari kutil kelamin. Tapi dia bertanya,'Dok, HPV kan penyakit perempuan, saya sudah sembuh, apakah masih perlu vaksin?' Ini menunjukkan bahwa pemahaman masyarakat masih kurang," tambahnya.

Padahal, vaksinasi HPV merupakan langkah pencegahan yang sangat penting, terutama karena tidak adanya metode skrining khusus untuk pria.

Berbeda dengan perempuan yang memiliki program deteksi dini, pria sering kali tidak memiliki kesempatan untuk mengetahui infeksi sejak awal.

"Vaksinasi bisa memberikan perlindungan jangka panjang dan mencegah penyakit akibat HPV sejak dini. Ini penting karena infeksi HPV sering tidak disadari dan bisa bertahan lama," kata Hanny.

Dia menambahkan bahwa pendekatan kesehatan saat ini seharusnya tidak lagi berfokus pada pengobatan semata, tapi juga pada pencegahan dan promosi kesehatan.

"Prevention is better than cure. Pengobatan HPV bisa memakan waktu lama, mulai dari diagnosis hingga terapi. Padahal, kita bisa mencegahnya sejak awal dengan vaksinasi," pungkasnya.

Dengan meningkatnya edukasi dan kesadaran, diharapkan pria tidak lagi menganggap HPV sebagai masalah perempuan semata, melainkan ancaman kesehatan bersama yang perlu dicegah sejak dini.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |