Obesitas Kerap Baru Ketahuan Saat Gula Darah dan Kolesterol Naik

16 hours ago 7

Liputan6.com, Jakarta - Obesitas sering datang tanpa disadari. Banyak orang merasa tubuhnya masih baik-baik saja karena tetap bisa beraktivitas seperti biasa. Padahal, di balik itu, risiko kesehatan bisa saja sudah mulai berkembang perlahan. Tak sedikit kasus obesitas baru terdeteksi saat seseorang memeriksakan diri karena gula darah atau kolesterol tinggi.

Dari situ, dokter menemukan bahwa indeks massa tubuh (IMT) pasien sudah masuk kategori obesitas. Spesialis Gizi Klinik, Diana Suganda, menjelaskan, kondisi ini cukup sering terjadi di praktik sehari-hari.

"Banyak pasien datang bukan untuk memeriksakan berat badan, melainkan karena gangguan gula darah atau kolesterol. Setelah diperiksa lebih lanjut, ternyata berat badannya sudah masuk kategori obesitas," ujarnya.

Tanda Obesitas Sering Dianggap Sepele

Salah satu tanda obesitas yang jarang disadari adalah mudah lelah. Naik tangga terasa lebih berat, berjalan jarak pendek membuat napas terengah, atau aktivitas ringan terasa menguras energi.

Kondisi ini sering dianggap wajar, apalagi jika usia bertambah atau aktivitas sedang padat. Padahal, rasa cepat lelah bisa menjadi sinyal bahwa tubuh bekerja lebih keras akibat beban berlebih.

Secara medis, obesitas memengaruhi sistem metabolisme, kerja jantung, dan pernapasan. Tubuh membutuhkan energi lebih besar untuk menjalankan fungsi yang sebelumnya terasa ringan. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menurunkan kualitas hidup.

Sayangnya, banyak orang menilai obesitas hanya dari tampilan fisik. Selama merasa tidak terlalu gemuk atau masih percaya diri, mereka menganggap berat badan tidak menjadi masalah.

Padahal, ukuran obesitas ditentukan melalui perhitungan indeks massa tubuh (IMT), yaitu perbandingan berat badan dan tinggi badan. Tanpa pengukuran objektif, kenaikan berat badan yang terjadi perlahan sering luput dari perhatian.

Hubungan Obesitas dengan Gula Darah dan Kolesterol

Penumpukan lemak berlebih dalam tubuh, terutama di area perut, berperan besar dalam gangguan metabolik. Lemak visceral dapat memicu peradangan kronis dan mengganggu kerja hormon insulin. Akibatnya, kadar gula darah lebih mudah meningkat.

Selain itu, obesitas juga berkontribusi pada kenaikan kadar kolesterol jahat (LDL) dan penurunan kolesterol baik (HDL). Kombinasi ini mempercepat proses penyempitan pembuluh darah.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Vardian Mahardika, menjelaskan, dampaknya tidak terjadi secara instan, melainkan bertahap.

"Ketika obesitas disertai kolesterol tinggi dan gangguan gula darah, pembuluh darah akan lebih cepat mengalami kerusakan. Dari situ risiko penyakit jantung meningkat," katanya.

Jantung pada orang dengan obesitas juga harus bekerja lebih keras untuk memompa darah ke seluruh tubuh. Jika kondisi ini berlangsung lama tanpa pengendalian, risiko komplikasi kardiovaskular seperti hipertensi hingga penyakit jantung koroner semakin besar.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |