Jawab Tantangan Gizi Nasional, IPB Gandeng Danone Perkuat Pendidikan Nutrisionis

15 hours ago 8

Liputan6.com, Jakarta - Tantangan gizi nasional semakin kompleks. Masalah stunting, obesitas, hingga kurangnya literasi gizi di masyarakat menuntut kehadiran tenaga kesehatan yang tidak hanya kuat secara teori, tapi juga adaptif dan siap terjun langsung ke lapangan. Menjawab kebutuhan tersebut, IPB University menggandeng Danone Indonesia untuk memperkuat pendidikan profesi nutrisionis melalui program praktik kerja (internship).

Kolaborasi ini melibatkan Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKG) IPB University bersama divisi Healthcare Nutrition (HN) Danone Indonesia. Program tersebut dirancang sebagai jembatan antara dunia akademik dan industri, sehingga mahasiswa Pendidikan Profesi Nutrisionis mendapatkan pengalaman praktik yang nyata, aplikatif, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Dekan Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, Dr. dr. Ivan Rizal Sini, GDRM, MMIS, FRANZCOG, SpOG, mengatakan, kerja sama ini mencerminkan komitmen institusi dalam menghadirkan pendidikan profesi yang responsif terhadap tantangan kesehatan masa kini.

"Sebagai institusi pendidikan, kami bertanggung jawab menyiapkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu mengimplementasikan ilmunya secara nyata dan berdampak," ujarnya.

Menurutnya, kolaborasi lintas sektor, termasuk dengan industri, menjadi langkah strategis untuk memperkaya perspektif mahasiswa. Isu kesehatan dan gizi tidak bisa diselesaikan hanya dari ruang kelas. Mahasiswa perlu memahami bagaimana riset, edukasi, dan program kesehatan dijalankan secara profesional di dunia industri.

Praktik Nyata Sepanjang 2026

Program praktik kerja profesi ini akan berlangsung sepanjang 2026 dalam beberapa gelombang. Mahasiswa tidak sekadar melakukan observasi, tetapi juga terlibat aktif dalam berbagai kegiatan.

Mereka akan berkontribusi dalam penyusunan konten edukasi berbasis sains, pengembangan materi komunikasi seperti infografis, penyelenggaraan diskusi dan webinar, hingga layanan konsultasi gizi bagi karyawan dan masyarakat. Sasaran program mencakup kelompok ibu hamil, ibu menyusui, hingga ibu dengan balita.

Skema ini dirancang agar mahasiswa mampu menerjemahkan ilmu gizi menjadi intervensi edukasi yang relevan dan mudah dipahami masyarakat.

Dengan demikian, lulusan nutrisionis tidak hanya menjadi konsultan di fasilitas kesehatan, tetapi juga agen perubahan dalam promosi kesehatan publik.

Medical Science Director Danone Indonesia, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, menilai penguatan SDM kesehatan harus dilakukan melalui pendekatan kolaboratif dan berbasis bukti.

"Tantangan kesehatan masyarakat yang semakin kompleks menuntut sinergi erat antara dunia akademik dan industri. Program ini membuka ruang pembelajaran aplikatif, di mana mahasiswa dapat terlibat langsung dalam riset, screening kesehatan, serta inisiatif community development berbasis sains," katanya.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |