Bersepeda Saat Ramadan, Ternyata Bukan Sekadar Olahraga Biasa

12 hours ago 9

Liputan6.com, Jakarta - Bersepeda bukan lagi sekadar aktivitas santai di akhir pekan. Dalam beberapa tahun terakhir, olahraga ini menjelma menjadi bagian dari gaya hidup sehat masyarakat perkotaan. Selain menyenangkan, bersepeda juga memberikan manfaat kesehatan yang signifikan.

Dibandingkan lari, bersepeda termasuk olahraga low impact yang lebih ramah pada sendi. Tekanan pada lutut dan pergelangan kaki relatif lebih kecil, sehingga cocok dilakukan oleh berbagai kelompok usia. Meski minim risiko cedera, manfaatnya tetap maksimal.

Dalam 30 menit bersepeda, tubuh dapat membakar sekitar 300 kalori sekaligus meningkatkan kesehatan jantung, memperkuat otot, dan melatih daya tahan tubuh. Manfaatnya tidak berhenti di fisik. Secara mental, bersepeda terbukti membantu mengurangi stres, memperbaiki suasana hati, hingga meningkatkan fokus. Tak heran jika tren olahraga berbasis komunitas, termasuk cycling, terus meningkat, terutama di kawasan Jabodetabek.

Namun, agar manfaatnya optimal, faktor keselamatan tetap menjadi prioritas. Menggunakan helm yang sesuai, memastikan ukuran sepeda pas dengan postur tubuh, mengatur tinggi sadel dengan tepat, serta melakukan pemanasan sebelum mulai mengayuh adalah langkah dasar yang tidak boleh diabaikan.

Olahraga yang baik bukan hanya soal seberapa jauh atau cepat, tetapi juga soal konsistensi dan cara yang benar. Semangat hidup sehat inilah yang kemudian diangkat dalam gerakan kolaboratif bertajuk Bukan Sepeda Biasa, bagian dari IP Sportainment BOB (Bukan Olahraga Biasa) yang diinisiasi oleh Susu Mbok Darmi melalui kampanye Ramadan 'Jadi Lebih Baik'.

Ngabuburit yang Lebih Bermakna

Ramadan selalu menghadirkan momen kebersamaan. Kali ini, kebersamaan itu diwujudkan lewat kegiatan Jadi Lebih Bike, salah satu rangkaian acara dalam Bukan Sepeda Biasa.

Sekitar 50 pesepeda dari 10 komunitas berkumpul di Kota Bogor. Dengan jersey penuh warna, mereka menempuh rute sejauh 11 kilometer yang dimulai dan diakhiri di Bebek Goreng H. Slamet Bangbarung.

Kegiatan ini bukan tentang lomba atau adu cepat. Tujuannya sederhana, bergerak bersama untuk menjadi lebih baik.

Konsep BOB lahir dari gagasan bahwa olahraga masa kini bukan hanya aktivitas fisik, melainkan juga ruang networking, gaya hidup, hingga wadah kolaborasi sosial.

Cycling dipilih bukan tanpa alasan. Selain sedang tren, bersepeda juga mencerminkan filosofi konsistensi, setiap kayuhan kecil yang dilakukan terus-menerus akan membawa kita sampai ke tujuan.

Menurut Dhony Pratama, CEO Susu Mbok Darmi, melalui BOB pihaknya ingin olahraga menjadi lebih dari sekadar gerak tubuh.

"Ramadan adalah waktu yang tepat untuk memperkuat nilai olahraga sebagai ruang networking, ekspresi, dan kontribusi sosial," ujarnya.

Program berbagi yang sebelumnya dikenal sebagai 'Darmi Berbagi' kini berevolusi menjadi 'Bogor Berbagi', membuka ruang kolaborasi lebih luas bagi brand lokal untuk terlibat dalam aksi sosial nyata.

Karena di era sekarang, masyarakat lebih terhubung dengan brand yang hadir dalam pengalaman, bukan sekadar muncul di media sosial.

Ketika olahraga, spiritualitas, dan kolaborasi bertemu dalam satu momentum, yang tercipta bukan hanya sebuah event.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |